Diskontinuitas Pendidikan Ditengah Pandemi Covid-19 ?

Minggu, 18 Oktober 2020 | 18:01 WIB Last Updated 2020-10-18T11:01:47Z

 


Potensi terjadinya diskontiunitas proses pembelajaran sangat besar. Tidak mudah bagi anak untuk membangun persepsi bahwa bersekolah di rumah hanya mengandalkan pola komunikasi virtual melalui HP/Laptop. Diskontinuitas tidak hanya terkait kognitif mata pelajaran, namun juga habit dari peserta didik itu sendiri yang justru menjadi unsur utama bagi pembentukan karakter.- Rahman Ghani


Keberadaan COVID-19 adalah fakta.Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tetap saja ada keraguan bagi sebagian orang: benarkah covid-19 ada?; jangan-jangan hanya isu aja yang dibesar-besarkan oleh media atau konspirasi?; dan berbagai pertanyaan lain yang menyertai keraguan sebagian masyarakat. Keraguan tersebut adalah wajar karena memang keberadaan virus itu sendiri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang biasa; dan hanya bisa diketahui dari gejala ketika mengenai seseorang. Namun, dari rangkaian kejadian yang terhampar di berbagai daerah dalam beberapa bulan, kami meyakini bahwa pandemi COVID-19 adalah suatu fakta. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Hampir tidak ada negara yang luput dari serangan COVID-19. 


Dunia seakan dikepung oleh “pasukan virus”, dan bahkan menurut para ahli, virus itu pun mengalami mutasi. Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Bisa jadi, mutasi virus COVID-19 menjadi salah satu sebab panjangnya pandemi ini. Masyarakat di seluruh dunia pun hanya bisa menghindar atau bertahan, yang kemudian memunculkan strategi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemudian disebut social distancing. Dan untuk melengkapi strategi menghindar, maka diperlukan pakai masker, cuci tangan, dan selalu jaga jarak.


Salah satu efek dari PSBB adalah menghindarkan dari segala bentuk kerumunan. Setiap aktivitas yang berpotensi memunculkan kerumunan atau kumpulan orang banyak tidak disarankan, bahkan dilarang. Kita mungkin masih ingat, bagaimana pelaksanaan sholat berjamaah (dalam berbagai bentuk, termasuk sholat jumat, hari raya) ditinjau ulang dan disarankan untuk melakukan sholat di rumah masing-masing; bahkan ibadah haji –termasuk umroh-- juga telah dilakukan moratorium. Begitu pula tempat-tempat keramaian lain, seperti pasar, perkantoran, dan seterusnya.


Terkait dengan kondisi tersebut, adalah penting untuk mencermati fenomena sekolah. Seperti diketahui, selama ini proses pembelajaran anak-anak dilakukan dalam suatu ruang. Pendidik dan peserta didik bertatap muka langsung untuk melaksanakan proses pembelajaran tersebut. Namun, sekolah kini harus beradaptasi dengan keadaan dan menjalankan proses pembelajaran melalui daring (online). Beruntung ditengah pandemi ini sudah didukung dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang sudah canggih, sehingga sangat membantu proses pembelajaran ketika dilakukan melalui online. Kita tidak bisa bayangkan, bagaimana jika teknologi informasi belum ada. Maka, sekolah tentu mengandalkan kepercayaan niat baik peserta didik  untuk belajar di rumah atau bahkan terhenti.


Sekalipun demikian, kondisi pandemi yang belum jelas ujungnya ini, maka pertanyaanya juga sama: sampai kapan model persekolahan online seperti sekarang ini berlangsung ?; ataukah ini akan menjadi model pesekolahan masa depan ?


Semua jawaban sangat terbuka, dan dunia pendidikan lebih memilih untuk mengambil langkap adaptif. Dunia pendidikan tampak belum siap ketika dihadapkan dengan kebencanaan seperti pandemi sekarang ini. Berbagai langkah-langkah yang dilakukan lebih sebagai respon kondisi, dan minim adanya mitigasi-mitigasi risiko dari setiap kondisi.


Pembelajaran online, secara kognitif, barangkali tidak banyak mereduksi. Para peserta didik dapat mengembangkan belajar di rumah dengan membaca buku maupun sumber belajar lain. Akan tetapi, dari sisi afektif dan psikomotorik, hal ini mengandalkan kondisi orang tua dan rumah yang tidak semuanya dapat dikontrol. Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran anak bisa jadi sudah menggantikan peran guru di sekolah yang seharusnya dijalani peserta didik. Masalahnya adalah kondisi waktu dan kemampuan orang tua sangat beragam. Maka, dapat dipahami jika ada orang tua yang bahkan kesal dengan kondisi anak ketika lambat dalam menerima pembelajaran, sebagaimana yang terjadi di Banten dan mungkin juga di beberapa daerah lain.


Pendeknya, terdapat beberapa kelemahan yang perlu dicermati terkait dengan adaptasi pendidikan online seperti sekarang ini, antara lain potensi reduksi terhadap beberapa aspek dalam pendidikan anak, mulai dari aspek intimacy (keintiman) antara pendidik dan peserta didik, keteladanan, kedisiplinan, dan aspek-aspek afektif lain.


Dalam aras yang lebih luas, kondisi sekarang ini berpotensi terjadinya de-schooling. Jaga Jarak yang muncul sebagai konsekuensi untuk bertahan dari COVID-19 telah memaksa sekolah-sekolah menjadi ruang-ruang kosong. Tidak ada lagi keramaian pagi hari anak-anak sekolah berangkat yang memadati jalan raya, kecuali di daerah-daerah  tertentu yang masih zona hijau dan atau desa-desa yang dinyatakan aman. Tidak ada lagi apel bendera para peserta didik apalagi kegiatan pembelajaran di dalam kelas.  Sekolah-sekolah menerapkan pola pembelajaran daring. Anak-anak tiap pagi mulai sibuk dengan perangkat HP atau laptop untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dari sekolah masing-masing. Muncul celotehan: “bolos sekolah sekarang sangat mudah, cukup mematikan tampilan video yang ada pada aplikasi zoom atau sejenisnya”.  Artinya, bisa saja nama peserta didik tampil dalam layar online, namun peserta didik tersebut ternyata tidur dalam mengikuti proses pembelajaran atau setidaknya beraktivitas lain.


Dengan mudah kita dapat membaca konsekuensi dari kondisi tersebut. Pertama, anak-anak yang masih dalam proses pembentukan, pelan tapi pasti mengalami pola habit yang baru. Dalam kondisi biasa, umumnya anak-anak SD/MI atau SMP/MTs bahkan SMA/MA/SMK tidak diperbolehkan sekolah dengan membawa HP. Namun, kini mereka harus terbiasa dengan HP. Keakraban pada HP pada khususnya, dan dunia internet pada umumnya, akhirnya menggoda para peserta didik untuk menjelajah “dunia lain” yang lebih mengasyikkan ketimbang pelajaran.  Kedua, ruang belajar dan ruang istirahat bahkan ruang bermain kini menyatu, yaitu di rumah.  Hal ini akan memberi pengaruh tersendiri bagi perkembangan anak. Ketiga, pola pengawasan pendidik relatif lebih longgar, karena tidak semua aktivitas p eserta didik terpantau secara langsung. Kegiatan pembelajaran banyak mengandalkan peran orang tua yang sangat beragam ketersediaan waktu, kemampuan, dan kemauan.


Dari beberapa aspek tersebut, maka potensi terjadinya diskontiunitas proses pembelajaran sangat besar. Tidak mudah bagi anak untuk membangun persepsi bahwa bersekolah di rumah hanya mengandalkan pola komunikasi virtual melalui HP/Laptop. Diskontinuitas tidak hanya terkait kognitif mata pelajaran, namun juga habit dari peserta didik itu sendiri yang justru menjadi unsur utama bagi pembentukan karakter.


Akhirnya, proses dan skema pendidikan yang telah dibangun puluhan tahun di negeri ini, tampaknya dipaksa untuk resetting. Para pihak –terutama pada stakeholders—tampaknya harus bekerja keras berpikir tentang pendidikan, jika pendidikan bagi anak-anak kita tidak mengalami diskontinuitas. Tanpa ada upaya untuk melakukan mitigasi dan respon yang tepat dan cepat, di hadapan pandemi dunia pendidikan akan tampak compang camping dan tidak mampu menawarkan kepada para orang tua murid dan juga peserta didik kondisi yang layak dan melindungi dari risiko kehilangan proses pembelajaran.


Akhirnya, salah satu hal yang perlu dipikirkan adalah dengan mengubah cara pandang apokaliptik pendidikan dan memastikan bahwa ujung dari pandemi ini tidak akan menjadi penderitaan berkepanjangan bagi dunia pendidikan, namun sebuah awalan yang baru.


Oleh: (Abdul Rahman A.Ghani/Wakil Rektor I UHAMKA).

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Diskontinuitas Pendidikan Ditengah Pandemi Covid-19 ?

Trending Now

Iklan

iklan