KabarPendidikan.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat literasi keuangan melalui penyediaan bahan ajar yang dapat diakses masyarakat secara gratis melalui Rumah Pendidikan. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada puncak Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 yang berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen.
Bahan ajar yang disediakan memuat materi literasi keuangan
dalam beragam konteks pembelajaran, mencakup pengelolaan keuangan pribadi,
lembaga keuangan, perekonomian digital, hingga perencanaan finansial,
investasi, pinjaman, dan pengelolaan anggaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul
Mu’ti, mengapresiasi kepercayaan OJK kepada Kemendikdasmen untuk menjadi mitra
dalam mengembangkan ekonomi syariah sekaligus memperkuat literasi keuangan
melalui pendidikan. “Buku tentang literasi keuangan syariah yang disusun oleh
OJK menjadi bagian dari materi yang dapat diakses oleh para murid, para guru,
dan seluruh masyarakat secara gratis. Mudah-mudahan ini tidak hanya
meningkatkan kemampuan literasi bagi murid-murid kita, tetapi juga mendorong
produktivitas, inklusi, serta kemajuan dan kesejahteraan bangsa dengan ekonomi
syariah sebagai salah satu pilarnya,” ungkap Menteri Abdul Mu’ti.
Melalui platform Rumah Pendidikan, materi literasi keuangan
dapat ditemukan dalam bentuk perangkat ajar pada Ruang Guru dan Tenaga
Kependidikan (GTK). Sejumlah bahan ajar yang telah melalui proses kurasi
Kemendikdasmen tersebut dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran
bersama OJK, di antaranya “Mengelola Keuangan Pribadi”, “Manajemen Keuangan
Kegiatan Kepanitiaan”, “Lembaga Keuangan”, “Barisan dan Deret”, “Perekonomian
Digital”, serta “Analisis Data dan Peluang”. Berbagai materi tersebut mengintegrasikan
literasi keuangan ke dalam pembelajaran Ekonomi dan Matematika serta kegiatan
kokurikuler.
Menteri Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan memegang
peranan penting dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda, sedangkan
penyediaan fasilitas dan akses pendukung dilakukan melalui kolaborasi dengan
sejumlah mitra strategis, termasuk OJK dan Kementerian Koperasi. “Kalau tugas
saya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mendidik anak-anak supaya
mengerti. Tapi yang membuka berbagai akses adalah Pak Ferry dan Bapak-bapak di
OJK. Inilah yang ingin kita bangun ke depan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku
Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono,
menyampaikan bahwa kerja sama bersama Kemendikdasmen ditujukan untuk membangun
strategi besar dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui
pendidikan formal. “Tujuannya adalah untuk menyusun sebuah strategi besar
bagaimana masyarakat kita sejak usia muda di pendidikan dasar menengah memahami
mengenai keuangan syariah,” ujar Dicky.
Menurut Dicky, kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada
penyediaan materi, tetapi juga meliputi penguatan bahan ajar dan kurikulum
serta pelaksanaan pelatihan bagi para guru. Ia menilai pemahaman generasi muda
mengenai berbagai layanan dan produk keuangan perlu terus diperkuat, terutama
seiring dengan semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan digital.
Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat
Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES), Ferry Juliantono, turut mengapresiasi
sinergi OJK, Kemendikdasmen, dan sejumlah pihak dalam penyelenggaraan ISFO
2026. “Harapannya dengan kolaborasi ini bisa menciptakan calon-calon
wirausahawan muda yang nanti akan berperan besar dalam pemanfaatan dan
pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” terang Ferry.
Pelaksanaan ISFO 2026 diikuti oleh 11.952 peserta yang
tergabung dalam 4.030 tim dari berbagai wilayah di Indonesia. Jumlah tersebut
menunjukkan pertumbuhan peserta sekitar 12 persen dibandingkan tahun
sebelumnya, sementara jumlah tim mengalami peningkatan sekitar 15 persen.
Melalui kolaborasi tersebut, kecakapan murid dalam memahami
pilihan serta risiko keuangan diharapkan semakin kuat, sekaligus mendorong
terbentuknya kebiasaan dalam mengambil keputusan secara bijak, aman, dan
bertanggung jawab. Pemerintah optimistis pembekalan literasi keuangan sejak
usia dini dapat melahirkan generasi Indonesia yang tidak hanya memiliki
kemampuan akademis, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan
memiliki ketangguhan dalam menghadapi perkembangan era digital.