Dosen Psikologi Uhamka
Manusia merupakan makhluk dengan memiliki
sisi kompleksitas yang mendalam. Manusia bukan hanya sekedar tubuh biologis, melainkan
dari sisi pikiran, emosi, kesadaran, nilai, dan kebutuhan untuk menemukan makna
kehidupan. Maka dari sinilah lahir tentang pertanyaan mengenai hakikat manusia
berbagai disiplin ilmu, khususnya psikologi dan spiritualitas. Pertanyaan
seperti siapa manusia sebenarnya, bagaimana manusia mencapai kebahagiaan,
dan apa tujuan keberadaannya menjadi dasar berkembangnya berbagai
pendekatan dalam memahami manusia tersebut. (James, 1902; Frankl, 1984).
Keilmuan psikologi di Barat berkembang
melalui pendekatan ilmiah yang berusaha memahami manusia berdasarkan perilaku,
proses mental, pengalaman sosial, sehingga lahirlah perkembangan kepribadian.
Pada tahap awal, psikologi banyak menekankan aspek yang dapat diamati secara
empiris, seperti perilaku dan proses belajar (Skinner, 1953). Namun, dalam perkembangannya menunjukkan bahwa
manusia tidak cukup dipahami hanya melalui perilaku, dikarenakan manusia juga
memiliki pengalaman subjektif, kebutuhan akan makna, dan kemampuan mencapai
kesadaran yang lebih tinggi (Maslow, 1970). Sementara dalam kajian psikologi
tasawuf, memposisikan manusia sebagai mahluk spiritual. Dimana manusia bukan
hanya sebagai organisme yang berkembang, melainkan sebagai makhluk yang
memiliki hubungan dengan Tuhan melalui dimensi hati (qalb) dan jiwa (ruh).
Dalam pandangan tasawuf, tujuan akhir manusia bukan hanya keberhasilan duniawi,
tetapi transformasi diri menuju kedekatan dengan Allah melalui penyucian jiwa (tazkiyatun
nafs) sehingga memberikan kebermanfaatan pada sesama (Al-Ghazali, 2005).
Oleh karen itu, psikologi Barat dan tasawuf
memiliki titik perhatian yang berbeda. Psikologi Barat lebih banyak membahas
bagaimana manusia berkembang sebagai individu, sedangkan tasawuf membahas
bagaimana manusia mengalami perjalanan batin menuju kesadaran spiritual. Namun,
keduanya dapat dipertemukan dalam upaya memahami manusia secara lebih utuh dan
integral.
Pandangan tentang Manusia: Makhluk
Biologis atau Makhluk Spiritual?
Dalam pandangan psikologi Barat, manusia
pada awalnya dipahami sebagai makhluk yang berkembang melalui interaksi antara
faktor biologis dan lingkungan sehingga melahirkan pendekatan behavioristik
menjelaskan bahwa perilaku manusia terbentuk melalui proses belajar dari
lingkungan. Skinner (1953) mengungkapkan perilaku dapat dipahami melalui hubungan
antara stimulus, respons, dan konsekuensi yang diterima individu. Pendekatan
ini memberikan kontribusi besar dalam memahami bagaimana manusia belajar,
sehingga membentuk kebiasaan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun,
pada sisi yang lain dalam pendekatan behavioristik dianggap memiliki
keterbatasan dikarenakan kurang memberikan perhatian terhadap pengalaman batin,
kebebasan memilih, dan pencarian makna hidup manusia (May, 1981).
Sebagai respons terhadap keterbatasan
tersebut, muncul aliran baru dalam psikologi yakni humanistik dimana memberikan
pandangan lebih positif mengenai manusia. Maslow (1970) menjelaskan bahwa
manusia bukan hanya makhluk yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, tetapi
memiliki dorongan untuk mencapai perkembangan tertinggi melalui aktualisasi
diri (self-actualization).
Menurut Maslow (1970), manusia yang
mencapai aktualisasi diri memiliki kemampuan menerima dirinya, berpikir
kreatif, memiliki hubungan yang bermakna, serta mampu mengalami pengalaman
mendalam yang disebut sebagai peak experience. Senada pula dalam
pandangan Rogers (1961) juga menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan
alami untuk berkembang menjadi pribadi yang utuh (fully functioning person).
Individu yang sehat adalah individu yang mampu menerima dirinya, terbuka
terhadap pengalaman, dan hidup sesuai dengan nilai yang diyakininya.
Hal ini berbeda dengan perspektif psikologi
Barat, dimana dalam psikologi tasawuf memandang manusia tidak hanya sebagai
tubuh dan pikiran, melainkan sebagai makhluk spiritual. Al-Ghazali menjelaskan
bahwa manusia memiliki dimensi jasmani dan ruhani, dengan hati (qalb)
sebagai pusat kesadaran spiritual manusia (Al-Ghazali, 2005). Oleh karena itu,
dalam perspektif tasawuf, hati bukan hanya tempat munculnya perasaan, melainkan
sebagai pengenalan manusia terhadap Tuhan. Dalam perkembangannya manusia tidak hanya diukur melalui kemampuan
intelektual atau keberhasilan sosial, melainkan melalui kemampuan membersihkan
hati dan memperbaiki hubungan spiritualnya untuk kemanusiaan.
Kesadaran Manusia: Rasionalitas atau
Kesadaran Ilahi?
Salah satu perbedaan antara psikologi Barat
dan tasawuf terletak pada konsep kesadaran. Dalam psikologi Barat modern,
kesadaran sering dikaitkan dengan kemampuan manusia memahami diri, berpikir,
mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku, sebagaimana yang diungkapkan
oleh Jung (1968) menjelaskan bahwa perkembangan manusia melibatkan proses
integrasi berbagai aspek kepribadian melalui proses individuasi, yaitu
perjalanan menuju keutuhan diri. Psikologi humanistik kemudian memperluas
pemahaman kesadaran dengan melihat manusia sebagai makhluk yang mampu melampaui
keterbatasan dirinya. Maslow (1970) menjelaskan bahwa manusia yang berkembang
dapat mengalami pengalaman puncak yang memberikan rasa keterhubungan,
kedamaian, dan makna mendalam.
Pemikiran tersebut kemudian berkembang
dalam psikologi transpersonal. Grof (1985) menjelaskan bahwa manusia memiliki
kemungkinan mengalami kondisi kesadaran yang melampaui batas ego pribadi.
Pengalaman transpersonal menunjukkan bahwa kesadaran manusia tidak selalu
terbatas pada identitas individual. Sementara dalam kerangaka Wilber (2000)
menjelaskan bahwa perkembangan manusia berlangsung melalui berbagai tingkat
kesadaran, mulai dari kesadaran ego hingga kesadaran transpersonal. Menurut
Wilber, manusia memiliki potensi untuk berkembang menuju tingkat kesadaran yang
lebih luas.
Lain halnya dalam psikologi tasawuf,
kesadaran tertinggi dipahami sebagai kesadaran terhadap Tuhan. Konsep seperti dzikrullah,
muraqabah, dan fana menunjukkan bahwa manusia dapat mengalami
transformasi ketika dirinya tidak lagi hanya berpusat pada ego pribadi,
melainkan menyadari berkoneksi dengan Allah sehingga berdampak bagi diri
sendiri dan orang lain (Al-Qusyairi, 2007).
Ego: Pengembangan Diri atau Transformasi
Diri?
Konsep ego menjadi salah satu perbedaan
penting antara psikologi Barat dan tasawuf.
Dalam psikologi modern Barat, ego memiliki fungsi penting dalam
kehidupan manusia. Freud (1923) mengungkapkan bahwa ego berperan dalam mengatur
hubungan antara dorongan biologis, nilai sosial, dan realitas kehidupan. Dalam
perspektif modern, ego yang sehat dianggap penting karena membantu manusia
membangun identitas, membuat keputusan, dan beradaptasi dengan lingkungan.
Sebagaimana dalam sudut pandang Rogers (1961) yang mengungkapkan perkembangan
manusia terjadi ketika seseorang mampu mencapai keselarasan antara pengalaman
nyata dirinya dan konsep dirinya.
Namun, tasawuf memiliki pandangan yang
berbeda terhadap ego. Dalam tradisi sufi, masalah utama manusia bukan
keberadaan ego, melainkan apabila ego menjadi pusat kehidupan dan menjauhkan
manusia dari kesadaran spiritual. Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia harus
melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) agar mampu mengendalikan
dorongan negatif dalam dirinya (Al-Ghazali, 2005). Sebagaimana dalam
pandangan Ibn Qayyim menjelaskan bahwa
penyakit hati seperti kesombongan, iri, dan keterikatan berlebihan terhadap
dunia dapat menghambat perjalanan spiritual manusia (Ibn Qayyim, 1996). Robert
Frager (1999) menjelaskan bahwa psikologi tasawuf tidak bertujuan menghancurkan
ego, tetapi mengubah hubungan manusia dengan ego tersebut. Ego yang awalnya
hanya berorientasi pada kepentingan pribadi dapat diarahkan menjadi sarana
pelayanan dan pengabdian dalam mendekatkan diri kepda Tuhan.
Pengetahuan: Antara Akal dan Pengalaman
Spiritual
Psikologi Barat menempatkan rasionalitas dan
empirism sebagai dasar memperoleh pengetahuan. Melalui penelitian empiris,
manusia berusaha memahami perilaku, pikiran, dan proses psikologis secara
sistematis (Skinner, 1953). Pendekatan ilmiah tersebut telah memberikan
kontribusi besar dalam perkembangan ilmu psikologi modern.
Namun, lain hanya dengan tasawuf bahwa
pengetahuan tidak cukup hanya dipahami melalui akal. Melainkan pengetahuan
harus mampu menghasilkan perubahan dalam diri manusia. Al-Ghazali menjelaskan
bahwa ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang memberikan perubahan terhadap hati
dan perilaku manusia (Al-Ghazali, 2005). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Al-Hujwiri
menjelaskan bahwa pengalaman spiritual bukan hanya pengetahuan konseptual,
tetapi pengalaman langsung terhadap realitas spiritual (Al-Hujwiri, 1992).
Dengan demikian, psikologi Barat lebih
menekankan proses memahami manusia, sedangkan tasawuf menekankan proses
transformasi manusia.
Sintesis Psikologi Barat dan Tasawuf:
Memahami Manusia Secara Utuh dan Integral
Perbedaan antara psikologi Barat dan
tasawuf tidak harus dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai dua
perspektif yang dapat saling melengkapi.
Psikologi Barat memberikan pemahaman
mengenai bagaimana manusia berkembang melalui aspek biologis, psikologis, dan
sosial (Maslow, 1970). Pendekatan humanistik menjelaskan potensi manusia,
psikologi transpersonal menjelaskan perkembangan kesadaran, sedangkan psikologi
eksistensial menjelaskan pentingnya makna hidup (Grof, 1985; Frankl, 1984).
Tasawuf memberikan dimensi tambahan bahwa
manusia tidak hanya membutuhkan perkembangan diri, melainkan tapi juga
membutuhkan hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. William
James (1902) menjelaskan bahwa pengalaman religius memiliki pengaruh besar
terhadap perubahan kepribadian manusia. Pengalaman spiritual dapat memberikan
makna, ketenangan, dan arah hidup.
Dalam konteks ini, manusia dapat dipahami
sebagai makhluk yang memiliki beberapa dimensi:
- Tubuh, yang membutuhkan
keseimbangan sebagai makhluk biologis.
- Pikiran, yang membutuhkan
pengetahuan dan rasionalitas sebagai makhluk yang berpikir.
- Ego, yang membutuhkan perkembangan
dan pengelolaan kepribadian.
- Hati, yang membutuhkan nilai dan
makna sebagai makhluk yang memiliki seni.
- Ruh, yang membutuhkan hubungan
spiritual sebagai makhluk yang berkebutuhan spiritual.
Pendekatan integratif ini menunjukkan bahwa
manusia tidak cukup dipahami hanya sebagai makhluk rasional atau psikologis,
tetapi sebagai makhluk yang memiliki dimensi spiritual.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ Ulum al-Din.
Beirut: Dar Ibn Hazm.
Al-Hujwiri. (1992). The Kashf al-Mahjub:
The Revelation of the Veiled. London: Islamic Texts Society.
Al-Jili, A. K. (1997). Al-Insan al-Kamil.
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Qusyairi. (2007). Risalah Qusyairiyah.
Jakarta: Pustaka Amani.
Erikson, E. H. (1963). Childhood and
Society. New York: Norton.
Frankl, V. E. (1984). Man’s Search for
Meaning. New York: Washington Square Press.
Frager, R. (1999). Heart, Self, and
Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony. Wheaton: Quest
Books.
Freud, S. (1923). The Ego and the Id.
London: Hogarth Press.
Grof, S. (1985). Beyond the Brain.
Albany: SUNY Press.
Ibn Arabi. (2002). The Bezels of Wisdom.
New York: Paulist Press.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (1996). Madarij
al-Salikin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
James, W. (1902). The Varieties of
Religious Experience. New York: Longmans.
Jung, C. G. (1968). The Archetypes and
The Collective Unconscious. Princeton University Press.
Maslow, A. H. (1970). Motivation and
Personality. New York: Harper & Row.
May, R. (1981). Freedom and Destiny.
New York: Norton.
Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person.
Boston: Houghton Mifflin.
Rumi, J. (1995). The Essential Rumi.
New York: HarperCollins.
Skinner, B. F. (1953). Science and Human
Behavior. New York: Macmillan.
Wilber, K. (2000). Integral Psychology:
Consciousness, Spirit, Psychology, Therapy. Boston: Shambhala.