Mahasiswi UIN Ar-Raniry Membatik di Singapura dalam Kegiatan Sosial Program FASStrack NUS 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 | 11:10 WIB Last Updated 2026-07-25T04:10:12Z

KabarPendidikan.id - 
Batik menjadi salah satu seni tekstil tradisional yang berkembang di Asia Tenggara dan terus dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya kawasan. Melalui workshop membatik di Visual Arts Centre Singapore, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memperoleh pengalaman langsung mempelajari teknik sekaligus nilai budaya yang terkandung di balik tradisi tersebut.

 

Workshop yang berlangsung pada 6 Juli 2026 itu merupakan bagian dari rangkaian FASStrack Asia: The Summer School 2026 yang diselenggarakan oleh National University of Singapore (NUS). Sebagai salah satu agenda social event, kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan keberagaman budaya Asia melalui pengalaman praktik langsung, sekaligus mempererat interaksi antarpeserta yang berasal dari berbagai negara.

 

Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti demonstrasi teknik dasar membatik yang dipandu oleh instruktur profesional. Para peserta diperkenalkan pada penggunaan canting untuk mengaplikasikan wax pada kain sebagai pembatas agar warna tidak melewati pola yang telah dibuat. Instruktur juga menjelaskan setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari membuat sketsa, melapisi motif menggunakan malam, hingga proses pewarnaan menggunakan cat kain.

 

Setelah sesi demonstrasi, para peserta diberi kesempatan untuk merancang motif sesuai kreativitas masing-masing. Desain tersebut kemudian diaplikasikan pada sebuah tote bag menggunakan canting dan pewarna kain. Setiap karya yang dihasilkan memiliki karakter yang berbeda, mencerminkan kreativitas sekaligus pemahaman peserta terhadap teknik membatik yang baru mereka pelajari.

 

Workshop ini tidak hanya memberikan pengalaman artistik, tetapi juga menjadi ruang pertukaran budaya. Peserta dari berbagai negara saling berbagi cerita mengenai tradisi seni di negara asal mereka, sekaligus mengenal lebih dekat batik sebagai salah satu seni tekstil tradisional yang berkembang di kawasan Asia Tenggara.

 

Salah seorang peserta dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Cut Sitti Kamila Muslim, mengaku workshop tersebut mengubah cara pandangnya terhadap batik. Menurutnya, selama ini ia lebih mengenal batik hanya sebagai bagian dari budaya Indonesia, tetapi melalui kegiatan tersebut ia memahami bahwa tradisi batik juga berkembang di sejumlah negara Asia Tenggara.

 

"Saya jadi melihat batik dari perspektif yang berbeda. Sebelumnya saya hanya memahami batik dalam konteks Indonesia, tetapi melalui workshop ini saya mengetahui bahwa tradisi batik juga hidup dan berkembang di negara-negara Asia Tenggara. Hal itu membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya di kawasan ini," ujarnya.

 

Ia menilai pengalaman tersebut menjadi salah satu momen berharga selama mengikuti FASStrack Asia karena tidak hanya memperluas wawasan mengenai budaya, tetapi juga membuka ruang diskusi dengan mahasiswa internasional yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

 

Workshop membatik merupakan salah satu rangkaian kegiatan nonakademik dalam FASStrack Asia: The Summer School 2026. Selain mengikuti perkuliahan dan diskusi akademik di National University of Singapore, para peserta juga mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, membangun jejaring internasional, serta mendorong kolaborasi antarmahasiswa dari berbagai negara.

 

Melalui kegiatan ini, FASStrack Asia menunjukkan bahwa pertukaran mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengalaman budaya menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman lintas budaya, memperluas perspektif global, serta mempererat hubungan antarmahasiswa melalui apresiasi terhadap keberagaman tradisi yang dimiliki kawasan Asia.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswi UIN Ar-Raniry Membatik di Singapura dalam Kegiatan Sosial Program FASStrack NUS 2026

Trending Now

Iklan

iklan