KabarPendidikan.id - Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ke-42, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan kegiatan penguatan komitmen bersama untuk menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berkualitas, inklusif, aman, dan menyenangkan. Kegiatan tersebut digelar di Aula Lingga Buana BBPMP Jawa Barat Kampus Jayagiri, Lembang.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah, Masmidah Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa Hari Anak Nasional
menjadi momentum untuk kembali memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam
memenuhi hak anak. Hal tersebut sekaligus menjadi upaya memastikan setiap anak
Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, aman, inklusif, dan
menyenangkan.
Menurut Masmidah, terwujudnya visi Indonesia Emas 2045
sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam mempersiapkan generasi yang
sehat, cerdas, berkarakter, kreatif, serta mampu berdaya saing di tingkat
global. "Pendidikan harus menjadi ruang yang membahagiakan, memerdekakan,
dan memberdayakan setiap anak," ujarnya.
Ia menuturkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
terus mendorong transformasi pendidikan secara menyeluruh, mulai dari jenjang
PAUD hingga pendidikan menengah. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan
pendidikan karakter, peningkatan mutu pembelajaran, perlindungan anak, serta
penerapan Wajib Belajar Satu Tahun Prasekolah sebagai langkah strategis untuk
memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan.
Masmidah turut menyampaikan apresiasi kepada BBPMP Jawa
Barat, pemerintah daerah, Bunda PAUD, para guru, tenaga kependidikan, serta
seluruh pihak yang selama ini berkolaborasi dalam meningkatkan mutu layanan
pendidikan bagi anak-anak Indonesia.
Selain itu, Masmidah menekankan pentingnya penerapan Tujuh
Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Menurutnya, pembiasaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam
membangun karakter anak sejak usia dini.
"Kepada para pendidik, teruslah menjadi teladan,
penggerak, dan sahabat belajar bagi peserta didik. Ciptakan lingkungan belajar
yang aman, nyaman, bebas dari perundungan, menghargai keberagaman, dan mampu
menumbuhkan potensi terbaik setiap anak," pesannya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jabar, Samantha Dewi,
menyampaikan bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan
terbaik sejak awal kehidupan, termasuk dalam memperoleh pendidikan.
Menurutnya, penerapan Wajib Belajar Satu Tahun Prasekolah
merupakan bagian dari upaya bersama untuk memberikan kesempatan yang setara
bagi setiap anak agar dapat tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang aman,
nyaman, serta menyenangkan.
Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan
pertama bagi seorang anak. "Orang tua adalah guru pertama dan keluarga
adalah sekolah pertama. Ketika keluarga memberikan kasih sayang, teladan, dan
perhatian, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,
berkarakter, dan siap belajar," ungkapnya.
Samantha juga mengajak pemerintah, satuan pendidikan, guru,
orang tua, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam memastikan
terpenuhinya berbagai hak anak.
"Saya berharap, komitmen yang dibangun hari ini tidak
berhenti pada penandatanganan deklarasi, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata
demi masa depan anak-anak Jawa Barat. Karena anak yang bahagia hari ini adalah
pemimpin hebat di masa depan," katanya.
Di sisi lain, Kepala BBPMP Jabar, Komalasari, mengatakan
bahwa peringatan Hari Anak Nasional dapat menjadi momentum untuk semakin
memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam menghadirkan layanan PAUD
yang berkualitas bagi anak.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Wajib Belajar Satu Tahun
Prasekolah menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan pendidikan. Program
tersebut dinilai penting sebagai fondasi dalam membentuk karakter,
mengembangkan kemampuan dasar, sekaligus mempersiapkan anak sebelum memasuki
pendidikan dasar.
"Melalui program ini, pemerintah berupaya menghadirkan
layanan PAUD yang berkualitas, inklusif, aman, dan menyenangkan.
Keberhasilannya membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat,
hingga dunia usaha," terangnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Pendidikan
Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Jabar, Firman Oktora, Bunda
PAUD kabupaten/kota, para pendidik, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya
di bidang pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan Deklarasi Sekolah
Aman dan Menyenangkan serta penyerahan piagam kepada Bunda PAUD kabupaten/kota.
Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Wajib Belajar Satu
Tahun Prasekolah di wilayah Jawa Barat.