Oleh : Amalia Cahaya
Ada bunga yang lahir dari lumpur, namun dipuja oleh para penyendiri, para perenung, dan para pencari makna: teratai.
Ia bukan sekadar bunga; ia adalah metafora yang terlalu jujur untuk sebuah dunia yang sering memuja kilau, namun takut menghadapi kedalaman
Teratai mengajarkan satu kebenaran yang kadang sulit kita terima:
tidak ada kemurnian yang benar-benar lahir dari tempat yang bersih
Dari air keruh, ia mengangkat dirinya pelan-pelan; tanpa tergesa, tanpa ambisi untuk menjadi lebih dari yang seharusnya
Keindahan itu tidak muncul karena ia sempurna
tetapi karena ia berani tumbuh meski tahu dirinya dilihat dari tempat yang tidak selalu indah
Dalam hidup, kita pun sering berada di tengah lumpur:
dari kesalahan, luka hati, ucapan yang tidak sempat ditarik kembali
hingga harapan-harapan kecil yang kita kubur karena takut kecewa
Namun, seperti teratai mungkin kita hanya perlu naik sedikit demi sedikit membiarkan diri kita menyentuh cahaya yang selama ini kita kira jauh
Banyak orang berkata bahwa teratai adalah bunga yang bijaksana.
Bagiku, teratai lebih dari itu Ia adalah bunga yang menggoda kita untuk jujur pada diri sendiri
bahwa ada bagian dari kita yang ingin keluar dari gelap,
tapi masih malu mengakui bahwa kita pantas untuk terang.
Dan mungkin sayangku…
kebenaran terbesar dari teratai adalah ini:
Keindahan tidak pernah lahir dari ketiadaan luka
Ia tumbuh justru dari keberanian untuk tidak menyerah
Seperti teratai yang mekar tanpa suara
kita pun bisa menjadi indah tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun
Cukup hadir
Cukup bertahan
Cukup menjadi diri sendiri yang terus mencari cahaya;
meski perlahan, meski dari lumpur yang paling sunyi