KabarPendidikan.id - Setiap peserta didik mempunyai kemampuan, kebutuhan, serta ritme belajar yang beragam. Oleh sebab itu, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga perlu menyediakan kesempatan bagi setiap anak untuk mengembangkan kemampuan diri, menghadapi hambatan belajar, dan membentuk karakter positif.
Prinsip tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan
Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam siaran langsung di platform TikTok
Kumparan. Ia menyoroti pentingnya penerapan pembelajaran yang berorientasi pada
kebutuhan masing-masing murid, termasuk memberikan pendampingan kepada peserta
didik yang belum mencapai penguasaan kompetensi dasar.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan yang
mengakomodasi perbedaan kemampuan atau diferensiasi dapat membantu setiap murid
berkembang berdasarkan potensi yang dimiliki. Peserta didik dengan kemampuan
akademik unggul dapat diberikan kesempatan untuk menempuh pembelajaran lebih
cepat, sementara mereka yang menghadapi kendala belajar perlu memperoleh
bantuan sesuai kebutuhannya.
“Pendidikan itu harus memberikan ruang namanya diferensiasi,
artinya murid itu tidak sama dan tidak boleh disamakan. Karena dalam kebijakan
pendidikan itu ada namanya akselerasi, yang pintar boleh dipercepat,”
ungkapnya.
Ia menambahkan, murid yang telah memahami materi
pembelajaran tidak seharusnya terus berada dalam posisi menunggu
teman-temannya. Hal tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi semangat belajar
mereka. Di sisi lain, peserta didik yang belum menguasai materi perlu
memperoleh bimbingan agar mampu mengejar ketertinggalan sekaligus memperkuat
dasar pengetahuannya.
Penerapan pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan murid
juga menjadi salah satu landasan dalam rencana kebijakan tidak otomatis naik
kelas yang akan dipersiapkan mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan tersebut
ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menjadikan penguasaan
kompetensi sebagai perhatian utama, bukan hanya proses perpindahan murid ke
tingkat kelas selanjutnya.
Abdul Mu’ti menerangkan bahwa materi pembelajaran dirancang
secara berjenjang dan memiliki keterkaitan antara satu materi dengan materi
lainnya. Oleh karena itu, kemampuan dasar perlu dikuasai terlebih dahulu agar
murid memiliki kesiapan dalam mempelajari materi yang lebih mendalam pada
jenjang berikutnya.
Ketika kompetensi dasar belum terpenuhi, peserta didik dapat
mengalami hambatan yang semakin kompleks dalam mengikuti pembelajaran
selanjutnya. Atas dasar itu, proses evaluasi perlu dimanfaatkan untuk mengenali
kebutuhan masing-masing murid sekaligus menentukan pendampingan yang sesuai.
“Kalau anak secara akademik rendah atau belum mampu, lalu tetap naik kelas, itu
malah membebani psikologis anak itu sendiri,” ujarnya.
Berdasarkan pendekatan tersebut, penilaian kenaikan kelas
perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Hasil
evaluasi dapat digunakan guru dan pihak sekolah sebagai acuan dalam menyusun
langkah perbaikan, sehingga setiap murid mempunyai kesempatan untuk memperkuat
kompetensinya sebelum mempelajari materi yang lebih kompleks.
Abdul Mu’ti turut mengingatkan para guru agar tidak
tergesa-gesa memberikan penilaian negatif kepada murid yang mengalami kesulitan
belajar maupun memperlihatkan perilaku yang dinilai kurang sesuai selama
kegiatan pembelajaran. Guru perlu memahami kondisi anak secara utuh, sebab
berbagai faktor di luar lingkungan sekolah dapat berpengaruh terhadap
konsentrasi dan kemampuan mereka dalam mengikuti pelajaran.
Sebagai gambaran, ia mengangkat kondisi murid yang kerap
tertidur ketika berada di kelas. Menurutnya, perilaku tersebut tidak selalu
disebabkan oleh kurangnya motivasi belajar, tetapi bisa saja dipengaruhi
keadaan keluarga atau tuntutan tertentu yang mengharuskan anak bekerja pada
malam hari.
“Jangan selalu langsung dihakimi. Sering mendengar cerita,
ada anak setiap berangkat sekolah selalu tidur di dalam kelas. Mohon maaf
dengan segala hormat, malam harus bekerja atau mengerjakan hal-hal yang tidak
bisa dihindari karena keadaannya,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bagi para pendidik
untuk lebih memahami kondisi dan latar belakang setiap peserta didik. Guru
tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga perlu
mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi murid, menjalin komunikasi yang baik,
serta memberikan perhatian berdasarkan kebutuhan mereka.
Penerapan pendekatan tersebut juga memerlukan dukungan dari
pihak sekolah dan keluarga agar berbagai faktor yang menghambat proses belajar
dapat diketahui lebih awal. Dengan begitu, penanganan terhadap murid tidak
hanya berupa pemberian nilai maupun teguran, melainkan disertai langkah
pendampingan untuk membantu meningkatkan hasil belajarnya.
Selain aspek akademik, Kemendikdasmen turut mendorong
pelaksanaan penilaian yang memperhatikan perkembangan karakter peserta didik.
Keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh pencapaian nilai yang
tinggi, tetapi juga tercermin dari terbentuknya sikap jujur, tanggung jawab,
dan kemampuan menghormati orang lain.
Peserta didik dengan capaian akademik yang baik tetap perlu
diarahkan untuk mengembangkan karakter positif. Sementara itu, murid yang belum
memperoleh hasil belajar sesuai target harus diberikan ruang dan kesempatan
untuk meningkatkan kemampuannya melalui bimbingan yang tepat.
Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak hanya berfungsi
untuk mengukur atau membandingkan hasil belajar antarpeserta didik, tetapi juga
menjadi instrumen untuk memantau perkembangan setiap anak. Melalui hasil
penilaian tersebut, guru dapat mengenali kebutuhan belajar murid, memberikan
penguatan terhadap materi yang belum dikuasai, serta merancang langkah
perbaikan yang diperlukan.
Melalui penerapan pembelajaran yang adaptif, Kemendikdasmen
berupaya membangun sistem pendidikan yang mengakui keberagaman kemampuan
peserta didik dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang. Pada
akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya tercermin dari prestasi akademik,
tetapi juga dari keberhasilan sekolah dalam mendampingi setiap murid untuk
mengoptimalkan potensi dirinya.