Refleksi Kehidupan: Ketika Gelar Profesor Datang — Berkah, Ujian, atau Awal dari Rapat Tanpa Akhir?

Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:40 WIB Last Updated 2026-05-09T02:40:45Z

Untuk Teh Mimi dan Kang Hari


Ada sebuah momen yang sangat sakral dalam dunia akademik.
Momen ketika seseorang resmi menyandang gelar profesor.

Keluarga bahagia.
Teman mengucapkan selamat.
Karangan bunga berdatangan.
Grup WhatsApp kampus dan Grup Komunitas mendadak aktif seperti pasar pagi.

Dan di tengah semua ucapan itu, sang profesor biasanya tersenyum tenang sambil berkata:

“Ini semua berkat kerja keras dan doa.”

Padahal dalam hati mungkin ada tambahan kecil:

“…dan juga kopi, revisi, begadang, serta kesabaran menghadapi reviewer nomor dua.”

Karena semua peneliti tahu:
Reviewer nomor dua itu kadang bukan manusia biasa.
Ia makhluk akademik misterius yang bisa berkata:

“Tulisan ini menarik, tetapi sebaiknya ditulis ulang seluruhnya.”

 

Profesor: Puncak Gunung atau Pos Pendakian Berikutnya?

Banyak orang mengira gelar profesor adalah garis finish kehidupan akademik.

Padahal sering kali itu hanya perubahan status dari:

“sibuk”

menjadi:

“sibuk sekali.”

Sebelum jadi profesor:

  • mengejar publikasi,
  • mengejar penelitian,
  • mengejar angka kredit.

Sesudah jadi profesor:

  • mengejar waktu,
  • mengejar undangan seminar,
  • mengejar jadwal rapat,
  • dan kadang mengejar file presentasi yang hilang lima menit sebelum acara dimulai.

Hidup akademik memang unik.
Makin tinggi jabatan, makin sedikit waktu tidur yang tersisa.

 

Berkah yang Tidak Datang Tiba-Tiba

Gelar profesor bukan hadiah undian berhadiah.

Tidak ada orang tiba-tiba mendapat pesan:

“Selamat! Anda memenangkan gelar profesor. Ketik YES untuk konfirmasi.”

Tidak.

Di balik gelar itu ada:

  • puluhan tahun belajar,
  • ratusan buku,
  • ribuan halaman revisi,
  • jutaan kata dalam jurnal,
  • dan entah berapa liter kopi yang telah dikorbankan demi ilmu pengetahuan.

Kadang perjuangan akademik itu begitu panjang sampai keluarga ikut hafal istilah ilmiah.

Anak kecil yang orang tuanya dosen biasanya tumbuh dengan suara-suara seperti:

“Papa sedang submit jurnal.”

atau:

“Mama sedang revisi artikel.”

Bahkan ada anak yang mengira “deadline” itu anggota keluarga karena namanya disebut setiap hari.

 

Gelar yang Panjang, Tetapi Waktu Tidur Pendek

Ada humor klasik di kampus:

“Semakin panjang gelar seseorang, semakin pendek waktu tidurnya.”

Dan memang ada benarnya.

Karena setelah menjadi profesor, kehidupan berubah.

Dulu dipanggil:

“Pak Dosen.”

Sekarang:

“Prof…”

Awalnya terdengar membanggakan.
Tetapi lama-lama setiap panggilan “Prof” biasanya diikuti sesuatu:

  • diminta sambutan,
  • diminta jadi narasumber,
  • diminta jadi reviewer,
  • diminta jadi pembicara,
  • diminta jadi penguji,
  • diminta hadir rapat mendadak.

Akhirnya seseorang sadar:
gelar profesor bukan hanya simbol kehormatan.

Ia juga magnet tugas tambahan.

 

Ujian Ego yang Sangat Halus

Inilah ujian terbesar seorang profesor:
bukan soal penelitian,
tetapi soal hati.

Karena semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar godaan merasa diri paling benar.

Ilmu itu unik.
Ia bisa membuat seseorang sangat bijak…
atau sangat suka mengoreksi orang bahkan saat makan bakso.

Profesor sejati biasanya justru sederhana.

Mereka tahu:
lautan ilmu terlalu luas untuk disombongkan.

Orang yang benar-benar pintar sering berbicara tenang.
Karena ia tidak sibuk membuktikan dirinya hebat.

Sebaliknya, kadang yang baru membaca tiga artikel sudah mulai:

  • memperbaiki semua orang,
  • memakai istilah asing berlebihan,
  • dan menganggap diskusi keluarga seperti seminar internasional.

 

Dunia Akademik dan Humor yang Tidak Disengaja

Kehidupan profesor penuh humor yang kadang tragis.

Misalnya:
menghabiskan tiga bulan menulis artikel ilmiah…

…lalu ditolak jurnal dalam tiga menit.

Atau:
sudah presentasi serius satu jam penuh,
baru sadar mikrofon ternyata mute.

Ada juga momen sakral ketika seorang profesor berkata:

“Slide berikutnya adalah slide terakhir.”

Tetapi ternyata masih ada 47 slide tambahan.

Mahasiswa biasanya langsung mengalami krisis spiritual kecil.

 

Teknologi Tidak Selalu Membantu

Dulu tantangan profesor adalah mencari buku.

Sekarang tantangannya:
mengingat password.

Kehidupan modern membuat profesor harus:

  • memahami Zoom,
  • Google Meet,
  • LMS,
  • cloud storage,
  • AI,
  • dan kadang printer yang entah kenapa hanya rusak saat deadline.

Printer memiliki kemampuan supranatural:
normal sepanjang bulan,
rusak tepat sebelum pengumpulan.

Bahkan banyak akademisi percaya:
printer bisa merasakan kepanikan manusia.

Profesor Juga Manusia Biasa

Kadang masyarakat membayangkan profesor tahu segalanya.

Padahal profesor juga:

  • lupa menaruh HP,
  • bingung mencari kacamata yang ternyata dipakai,
  • salah kirim file,
  • membuka kulkas lalu lupa mau ambil apa.

Titel akademik tidak membuat seseorang otomatis sempurna.

Dan mungkin justru itu pelajaran pentingnya:
setinggi apa pun ilmu, manusia tetap manusia.

Ia tetap bisa lelah.
Tetap bisa sedih.
Tetap bisa takut gagal.

Bahkan banyak profesor diam-diam masih merasa gugup sebelum presentasi.

Karena semakin banyak tahu, semakin sadar betapa luas hal yang belum diketahui.

 

Kesepian Intelektual

Ada sisi lain yang jarang dibicarakan:
menjadi profesor kadang menghadirkan kesepian.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit orang yang benar-benar bisa diajak berdiskusi mendalam.

Kadang seseorang dikelilingi banyak orang,
tetapi tetap merasa sendirian dalam pikirannya.

Maka profesor tidak hanya membutuhkan kecerdasan,
tetapi juga:

  • persahabatan,
  • keluarga,
  • humor,
  • dan kemampuan menertawakan diri sendiri.

Karena tanpa humor,
dunia akademik bisa terasa terlalu serius.

 

Pentingnya Humor dalam Ilmu

Humor adalah vitamin bagi kehidupan intelektual.

Bayangkan jika semua profesor berbicara seperti abstrak jurnal:

“Berdasarkan pendekatan multidimensional transdisipliner…”

Orang belum tentu paham,
tetapi sudah mengantuk duluan.

Humor membuat ilmu menjadi manusiawi.

Profesor yang bisa tertawa biasanya lebih disukai mahasiswa daripada yang selalu terlihat seperti pengawas ujian nasional.

Karena ilmu bukan hanya soal kecerdasan,
tetapi juga kemampuan menyentuh hati manusia.

 

Makna Gelar yang Sesungguhnya

Pada akhirnya,
gelar profesor bukan tentang kursi,
bukan tentang penghormatan,
bukan tentang nama panjang di kartu nama.

Makna sejatinya adalah:
apakah kehadiran seseorang membuat dunia sedikit lebih baik?

Apakah ilmunya membantu orang lain?
Apakah pikirannya membuka harapan?
Apakah nasihatnya memberi arah?

Sebab sehebat apa pun gelar,
yang paling diingat orang biasanya bukan titel,
melainkan sikap.

Orang lupa daftar publikasi.
Tetapi mereka ingat:

  • siapa yang rendah hati,
  • siapa yang membantu,
  • siapa yang menginspirasi.

 

Penutup: Setelah Semua Gelar Itu

Suatu hari nanti,
sertifikat akan disimpan di lemari.
Piagam akan berdebu.
Jabatan akan berganti.

Tetapi kebaikan ilmu akan tetap tinggal.

Maka mungkin benar:
gelar profesor adalah berkah sekaligus ujian.

Berkah karena memberi kesempatan mengabdi lebih luas.
Ujian karena menguji apakah seseorang tetap bijak ketika dihormati.

Dan di tengah semua kesibukan akademik itu,
ada satu kenyataan lucu yang menyatukan semua profesor di dunia:

Tidak peduli seberapa tinggi gelar seseorang…

file presentasi tetap bisa hilang tepat sebelum seminar dimulai.

 

Jakarta, 9 Mei 2026

Ade Hikmat & Nani Solihati,
Sekolah Pascasarjana Uhamka

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Refleksi Kehidupan: Ketika Gelar Profesor Datang — Berkah, Ujian, atau Awal dari Rapat Tanpa Akhir?

Trending Now

Iklan

iklan