Untuk Teh Mimi dan Kang Hari
Ada sebuah momen yang sangat sakral dalam
dunia akademik.
Momen ketika seseorang resmi menyandang gelar profesor.
Keluarga bahagia.
Teman mengucapkan selamat.
Karangan bunga berdatangan.
Grup WhatsApp kampus dan Grup Komunitas mendadak aktif seperti pasar pagi.
Dan di tengah semua ucapan itu, sang
profesor biasanya tersenyum tenang sambil berkata:
“Ini semua berkat kerja keras dan doa.”
Padahal dalam hati mungkin ada tambahan
kecil:
“…dan juga kopi, revisi, begadang, serta
kesabaran menghadapi reviewer nomor dua.”
Karena semua peneliti tahu:
Reviewer nomor dua itu kadang bukan manusia biasa.
Ia makhluk akademik misterius yang bisa berkata:
“Tulisan ini menarik, tetapi sebaiknya
ditulis ulang seluruhnya.”
Profesor: Puncak Gunung atau Pos
Pendakian Berikutnya?
Banyak orang mengira gelar profesor
adalah garis finish kehidupan akademik.
Padahal sering kali itu hanya perubahan
status dari:
“sibuk”
menjadi:
“sibuk sekali.”
Sebelum jadi profesor:
- mengejar
publikasi,
- mengejar
penelitian,
- mengejar
angka kredit.
Sesudah jadi profesor:
- mengejar
waktu,
- mengejar
undangan seminar,
- mengejar
jadwal rapat,
- dan
kadang mengejar file presentasi yang hilang lima menit sebelum acara
dimulai.
Hidup akademik memang unik.
Makin tinggi jabatan, makin sedikit waktu tidur yang tersisa.
Berkah yang Tidak Datang Tiba-Tiba
Gelar profesor bukan hadiah undian
berhadiah.
Tidak ada orang tiba-tiba mendapat pesan:
“Selamat! Anda memenangkan gelar
profesor. Ketik YES untuk konfirmasi.”
Tidak.
Di balik gelar itu ada:
- puluhan
tahun belajar,
- ratusan
buku,
- ribuan
halaman revisi,
- jutaan
kata dalam jurnal,
- dan
entah berapa liter kopi yang telah dikorbankan demi ilmu pengetahuan.
Kadang perjuangan akademik itu begitu
panjang sampai keluarga ikut hafal istilah ilmiah.
Anak kecil yang orang tuanya dosen
biasanya tumbuh dengan suara-suara seperti:
“Papa sedang submit jurnal.”
atau:
“Mama sedang revisi artikel.”
Bahkan ada anak yang mengira “deadline”
itu anggota keluarga karena namanya disebut setiap hari.
Gelar yang Panjang, Tetapi Waktu
Tidur Pendek
Ada humor klasik di kampus:
“Semakin panjang gelar seseorang, semakin
pendek waktu tidurnya.”
Dan memang ada benarnya.
Karena setelah menjadi profesor,
kehidupan berubah.
Dulu dipanggil:
“Pak Dosen.”
Sekarang:
“Prof…”
Awalnya terdengar membanggakan.
Tetapi lama-lama setiap panggilan “Prof” biasanya diikuti sesuatu:
- diminta
sambutan,
- diminta
jadi narasumber,
- diminta
jadi reviewer,
- diminta
jadi pembicara,
- diminta
jadi penguji,
- diminta
hadir rapat mendadak.
Akhirnya seseorang sadar:
gelar profesor bukan hanya simbol kehormatan.
Ia juga magnet tugas tambahan.
Ujian Ego yang Sangat Halus
Inilah ujian terbesar seorang profesor:
bukan soal penelitian,
tetapi soal hati.
Karena semakin tinggi ilmu seseorang,
semakin besar godaan merasa diri paling benar.
Ilmu itu unik.
Ia bisa membuat seseorang sangat bijak…
atau sangat suka mengoreksi orang bahkan saat makan bakso.
Profesor sejati biasanya justru
sederhana.
Mereka tahu:
lautan ilmu terlalu luas untuk disombongkan.
Orang yang benar-benar pintar sering
berbicara tenang.
Karena ia tidak sibuk membuktikan dirinya hebat.
Sebaliknya, kadang yang baru membaca tiga
artikel sudah mulai:
- memperbaiki
semua orang,
- memakai
istilah asing berlebihan,
- dan
menganggap diskusi keluarga seperti seminar internasional.
Dunia Akademik dan Humor yang Tidak
Disengaja
Kehidupan profesor penuh humor yang
kadang tragis.
Misalnya:
menghabiskan tiga bulan menulis artikel ilmiah…
…lalu ditolak jurnal dalam tiga menit.
Atau:
sudah presentasi serius satu jam penuh,
baru sadar mikrofon ternyata mute.
Ada juga momen sakral ketika seorang
profesor berkata:
“Slide berikutnya adalah slide terakhir.”
Tetapi ternyata masih ada 47 slide
tambahan.
Mahasiswa biasanya langsung mengalami
krisis spiritual kecil.
Teknologi Tidak Selalu Membantu
Dulu tantangan profesor adalah mencari
buku.
Sekarang tantangannya:
mengingat password.
Kehidupan modern membuat profesor harus:
- memahami
Zoom,
- Google
Meet,
- LMS,
- cloud
storage,
- AI,
- dan
kadang printer yang entah kenapa hanya rusak saat deadline.
Printer memiliki kemampuan supranatural:
normal sepanjang bulan,
rusak tepat sebelum pengumpulan.
Bahkan banyak akademisi percaya:
printer bisa merasakan kepanikan manusia.
Profesor Juga Manusia Biasa
Kadang masyarakat membayangkan profesor
tahu segalanya.
Padahal profesor juga:
- lupa
menaruh HP,
- bingung
mencari kacamata yang ternyata dipakai,
- salah
kirim file,
- membuka
kulkas lalu lupa mau ambil apa.
Titel akademik tidak membuat seseorang
otomatis sempurna.
Dan mungkin justru itu pelajaran
pentingnya:
setinggi apa pun ilmu, manusia tetap manusia.
Ia tetap bisa lelah.
Tetap bisa sedih.
Tetap bisa takut gagal.
Bahkan banyak profesor diam-diam masih
merasa gugup sebelum presentasi.
Karena semakin banyak tahu, semakin sadar
betapa luas hal yang belum diketahui.
Kesepian Intelektual
Ada sisi lain yang jarang dibicarakan:
menjadi profesor kadang menghadirkan kesepian.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin
sedikit orang yang benar-benar bisa diajak berdiskusi mendalam.
Kadang seseorang dikelilingi banyak
orang,
tetapi tetap merasa sendirian dalam pikirannya.
Maka profesor tidak hanya membutuhkan
kecerdasan,
tetapi juga:
- persahabatan,
- keluarga,
- humor,
- dan
kemampuan menertawakan diri sendiri.
Karena tanpa humor,
dunia akademik bisa terasa terlalu serius.
Pentingnya Humor dalam Ilmu
Humor adalah vitamin bagi kehidupan
intelektual.
Bayangkan jika semua profesor berbicara
seperti abstrak jurnal:
“Berdasarkan pendekatan multidimensional
transdisipliner…”
Orang belum tentu paham,
tetapi sudah mengantuk duluan.
Humor membuat ilmu menjadi manusiawi.
Profesor yang bisa tertawa biasanya lebih
disukai mahasiswa daripada yang selalu terlihat seperti pengawas ujian
nasional.
Karena ilmu bukan hanya soal kecerdasan,
tetapi juga kemampuan menyentuh hati manusia.
Makna Gelar yang Sesungguhnya
Pada akhirnya,
gelar profesor bukan tentang kursi,
bukan tentang penghormatan,
bukan tentang nama panjang di kartu nama.
Makna sejatinya adalah:
apakah kehadiran seseorang membuat dunia sedikit lebih baik?
Apakah ilmunya membantu orang lain?
Apakah pikirannya membuka harapan?
Apakah nasihatnya memberi arah?
Sebab sehebat apa pun gelar,
yang paling diingat orang biasanya bukan titel,
melainkan sikap.
Orang lupa daftar publikasi.
Tetapi mereka ingat:
- siapa
yang rendah hati,
- siapa
yang membantu,
- siapa
yang menginspirasi.
Penutup: Setelah Semua Gelar Itu
Suatu hari nanti,
sertifikat akan disimpan di lemari.
Piagam akan berdebu.
Jabatan akan berganti.
Tetapi kebaikan ilmu akan tetap tinggal.
Maka mungkin benar:
gelar profesor adalah berkah sekaligus ujian.
Berkah karena memberi kesempatan mengabdi
lebih luas.
Ujian karena menguji apakah seseorang tetap bijak ketika dihormati.
Dan di tengah semua kesibukan akademik
itu,
ada satu kenyataan lucu yang menyatukan semua profesor di dunia:
Tidak peduli seberapa tinggi gelar
seseorang…
file presentasi tetap bisa hilang tepat
sebelum seminar dimulai.
Jakarta,
9 Mei 2026
Ade
Hikmat & Nani Solihati,
Sekolah
Pascasarjana Uhamka