KabarPendidikan.id - Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendukung pemenuhan hak pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya di Kalimantan Timur. Lembaga ini berperan sebagai garda terdepan dalam menyediakan layanan terpadu guna mewujudkan sistem pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua anak.
Muhammad Fathoni Semedi, selaku pelaksana Program Preschool
Skills PLDPI, menyampaikan kepada RRI Samarinda bahwa lembaganya tidak hanya
menangani anak, tetapi juga aktif membangun kesadaran masyarakat tentang
pentingnya inklusivitas guna mengurangi stigma dan diskriminasi yang masih
sering terjadi di dunia pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa PLDPI menyediakan layanan intervensi
terpadu untuk menunjang perkembangan anak secara menyeluruh, mulai dari
fisioterapi, terapi perilaku, hingga pengembangan motorik dan terapi bicara
yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak.
Selain itu, PLDPI juga menyelenggarakan program kelas
transisi yang berfungsi sebagai jembatan bagi anak sebelum memasuki pendidikan
formal. Melalui kelas ini, anak diperkenalkan pada suasana belajar di kelas
serta penguatan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.
PLDPI juga menempatkan layanan asesmen sebagai fungsi
penting, mulai dari skrining awal hingga pemberian rekomendasi bagi anak
sebelum masuk sekolah, guna memastikan kebutuhan pendidikannya terpenuhi sejak
dini.
“Kami menyediakan layanan intervensi terpadu, kelas
transisi, serta asesmen yang terbuka untuk masyarakat umum, bahkan khusus
asesmen dapat diakses secara gratis,” ujar Fathoni.
Sejak didirikan pada 2014, PLDPI telah memberikan layanan
kepada lebih dari 200 anak dengan berbagai jenis disabilitas, seperti autisme,
down syndrome, dan ADHD. Tingginya kebutuhan layanan juga tercermin dari daftar
tunggu yang saat ini mencakup lebih dari 120 anak yang belum memperoleh terapi.
PLDPI saat ini diperkuat oleh lebih dari 30 tenaga
profesional yang menangani berbagai layanan, seperti terapis intervensi,
pengajar kelas transisi, dan tim asesmen. Meski begitu, jumlah ini masih perlu
ditambah agar lebih banyak anak dapat terlayani.
Menurut Fathoni, keberhasilan pendidikan inklusif tidak
cukup bergantung pada lembaga saja, melainkan juga membutuhkan lingkungan yang
mampu beradaptasi. Ia juga menilai bahwa pemahaman masyarakat terhadap kondisi
anak berkebutuhan khusus masih perlu ditingkatkan.
“Bukan hanya anak yang menjadi persoalan, tetapi juga
lingkungan yang belum sepenuhnya mampu beradaptasi. Karena itu, kami terus
melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif,”
katanya.
Melalui berbagai program dan layanan yang dijalankan, PLDPI
diharapkan dapat menjadi pusat rujukan sekaligus penggerak utama dalam
mewujudkan pendidikan inklusif. Dengan dukungan kolaborasi berbagai pihak,
keberadaan lembaga ini diharapkan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan
kualitas hidup anak berkebutuhan khusus di Kalimantan Timur.
adp