Edukasi Seksual Masyarakat di Indonesia

Jumat, 28 Juli 2023 | 09:51 WIB Last Updated 2023-07-28T02:51:00Z

 



 

Oleh: Zuliandra Salsabila Hemalia Putri

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

            Dalam beberapa tahun terakhir, banyak terjadi pelecehan seksual terhadap anak-anak, remaja, & orang dewasa dengan mayoritas korbannya adalah perempuan. Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sebanyak 23.684 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia sepanjang 2022. Jumlah korban pada perempuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan korban laki-laki yang sebanyak 4.394. Sebagian besarnya lagi tidak berani untuk melapor, karena mereka menganggap bahwa yang mereka alami adalah aib. Hal seperti ini perlu dibenahi mulai dari akarnya agar kasus-kasus kekerasan ataupun pelecehan seksual tidak lagi terjadi.

            Kekerasan seksual bisa terjadi karena kurangnya edukasi seksual yang diberikan kepada seseorang. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa pembahasan tentang sesuatu yang berbau seksual adalah hal yang tabu dan tidak pantas dibicarakan. Padahal, informasi tentang seks perlu diedukasikan kepada anak-anak sejak usia dini. Orang-orang juga beranggapan bahwa akan menjadi pengaruh yang buruk jika anak-anak mendengar apalagi membicarakan tentang seks pada usia mereka karena hal tersebut tidak pantas. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang harus dibenahi agar masyarakat Indonesia tidak lagi kekurangan edukasi yang akan sangat berpengaruh pada masa depan seseorang.

            Kurangnya edukasi seksual dari orang tua pada anak sejak usia dini bisa mengakibatkan anak tersebut menjadi penasaran dan mencari tahu sendiri. Apalagi di zaman serba modern seperti sekarang ini, mengakses sesuatu sangatlah mudah untuk dilakukan melalui internet. Dikhawatirkan jika seorang anak mencari tahu sendiri tentang apa itu seks tanpa pengawasan orang tua, mereka bisa menemukan sesuatu yang berbau pornografi dari internet. Hal tersebut bisa berakibat fatal pada kehidupannya.

Menurut Mark B. Kastleman dalam Subiakto 2020, pornografi adalah narkoba di era milenium baru yang membuat dunia berada di tengah-tengah bemcana mengerikan. Selain mengacaukan kehidupan, pornografi dapat merusak otak pada bagian PFC (Pre Frontal Cortex) yang merupakan control di area kortikal pada otak bagian depan yang mengatur fungsi kognitif dan emosi. Maka dari itu, tidak sedikit pelaku pelecehan seksual yang awalnya hanya sekadar mencari tahu tentang apa itu seks melalui pornografi. Pornografi bersifat candu, orang yang sudah melihat sesuatu yang berbau pornografi, pasti akan terus ketagihan jika ia tidak berusaha untuk mengendalikannya.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu, tapi, sudah banyak kasus yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual yang bemula dari kurangnya edukasi seksual. Perlu diketahui bahwa memberikan edukasi seksual kepada anak tidaklah tabu. Hal seperti itu sangatlah penting untuk diberitahukan pada anak. Sebagai generasi modern, kita harus berpikiran terbuka terhadap sesuatu yang terjadi pada saat ini. Bisa dimulai dengan mengedukasi anak tentang bagian-bagian tubuh mana saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Seiring perkembangan anak, bisa diberitahukan tentang apa itu seks secara perlahan dan mudah dipahami. Pada tingkatan Sekolah Menengah pun juga akan dipelajari melalui mata pelajaran IPA. Disini peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan untuk mengedukasi para anak agar tidak salah mengambil jalan.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Edukasi Seksual Masyarakat di Indonesia

Trending Now

Iklan

iklan