Dosen FFS Uhamka bersama Warga Kampung Nelayan Ciptakan Reed Diffuser Ramah Lingkungan

Rabu, 26 Januari 2022 | 10:00 WIB Last Updated 2022-02-01T14:21:51Z


Kabarpendidikan.id
Dosen Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (FFS Uhamka) didukung oleh Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Uhamka menggelar  Pelatihan Pembuatan Reed Diffuser Ramah Lingkungan di  Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, program ini diadakan secara luring di lokasi mitra. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (15/1) Pukul 09.00 – 12.00, di Gedung TPA RT 05 RW 04 Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara.


Dosen-dosen yang melakukan Program Kegiatan Masyarakat ada tiga yaitu, Tahyatul Bariroh,Sofia Fatmawati dan Rindita.


Mengingat belum terlepasnya kita dari kondisi pandemi, acara ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yaitu memakai masker, menggunakan hand sanitizer, membatasi jumlah peserta yaitu sebanyak 20 orang yang terdiri atas perwakilan pengurus RT dan RW, Ibu-ibu Dasawisma dan Ibu-ibu Rumah Tangga Kampung Nelayan Cilincing.


Menurut Sofia Fatmawati, metode distilasi merupakan metode yang cukup sederhana dan dapat dilakukan pada skala rumah tangga. Reed diffuser yang dibuat sifatnya ramah lingkungan karena tidak menggunakan baterai atau listrik, tetapi cukup menggunakan stik/batang/reed yang ditempatkan pada wadah berisi minyak atsiri.


"Reed diffuser ini memanfaatkan daya kapilaritas batang kayu yang dapat menyerap minyak atsiri dan menyebarkan wangi yang bertahan dalam jangka waktu tertentu selama minyak atsirinya tersedia," tutur Sofia.


Minyak atsiri (essential oils) merupakan minyak beraroma dari beberapa tanaman yang memiliki wangi/fragrance dan dapat diekstraksi melalui distilasi uap menggunakan alat distilasi sederhana dengan cara mengukus bagian tanaman yang akan diekstraksi minyak atsirinya kemudian ditampung uap yang dihasilkan dan dipisahkan minyak atsiri dari uapnya. 


Tahyatul Bariroh menjelaskan dalam materinya, minyak atsiri memiliki  banyak manfaat dalam berbagai bidang.


"Minyak atsiri memiliki manfaat sebagai aromaterapi dalam bidang kosmetik, kesehatan, sebagai anti bakteri, anti nyamuk, dan sebagai relaksasi atau penenang," tutur Tahyatul.


Pelatihan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang gaya hidup ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah atau bahan yang dapat ditemukan sehari-hari.


Dilain pihak Rindita menyampaikan, dengan adanya pembuatan minyak atsiri ini dapat menenangkan suasana rumah.


"Ibu-ibu dapat membuat suasana rumah lebih nyaman dan lebih harum sehingga mengurangi tingkat kejenuhan ataupun stres dan meminimalisir bau amis dari lingkungan sekitar," ujar Rindita.


Masyarakat peserta pelatihan ini sangat antusias mengikuti kegiatan ini terlebih dapat menghasilkan produk reed diffuser yang dapat mereka bawa ke rumah masing-masing, yaitu hasil karya mereka selama pelatihan. Salah satu peserta mengatakan.


“Kami sangat senang ada pelatihan seperti ini, mengikuti pelatihan seperti ini menambah pengetahuan dan keterampilan kami," tutur peserta.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dosen FFS Uhamka bersama Warga Kampung Nelayan Ciptakan Reed Diffuser Ramah Lingkungan

Trending Now

Iklan

iklan