Berpendidikan, Tapi Tidak Terdidik

Minggu, 11 April 2021 | 07:36 WIB Last Updated 2021-04-11T00:36:00Z


(Fanny Amelia / Mahasiswa FEB D3 Perpajakan Uhamka)

“… apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi rakyat dibiarkan bodoh, Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka”. ( Y. B. Mangunwijaya)


Tidak bisa dipungkiri, pendidikan jenjang perkuliahan di era 4.0 sudah tidak asing lagi di telinga. Generasi muda berlomba-lomba mengejar jenjang pendidikan yang tinggi, entah itu demi ilmu atau gengsi semata. Seperti menjadi trend baru “Aku keren jika ada gelar sarjana dibelakang namaku”. Padahal sejatinya, tidak lah berguna manusia berilmu jika ilmu nya tidak ia gunakan demi kepentingan orang banyak. Faktanya, banyak dari mereka justru menggunakan kepintarannya demi menipu kaum yang bodoh. Permasalahan yang tidak pernah ada jalan keluar nya adalah Korupsi dan Suap. 


Lemahnya kualitas pendidikan di Indonesia

Skema pendidikan yang biasa diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia adalah “Lebih mementingkan hasil nilai daripada proses”. Bahkan tidak jarang kecurangan terjadi Kemendikbud mencatat setidaknya ada 120 kasus kecurangan setiap tahun dalam dunia pendidikan, seperti membeli jawaban, mencontek, menggunakan media internet dll. Mindset inilah yang terus menggerus etika dan budi luhur generasi muda. Sehingga walaupun mengenyam pendidikan tinggi, nyatanya secara individu mereka tidak lah terdidik. Tidak jarang perilaku buruk ini dijembatani oleh orang tua yang lalai, banyak orang tua yang dengan sukarela menyuap pihak sekolah atau pun universitas agar anaknya bisa lulus atau masuk di jurusan impian, padahal terkadang hal tersebut tidak selaras dengan kemampuan seorang anak. Pihak sekolah pun secara terbuka menerima suap tersebut. Hal ini juga mendasari banyaknya oknum yang menjadikan pendidikan sebagai lading bisnis dan meraup keuntungan demi mengisi perut mereka sendiri, wakil KPK menyebutkan korupsi paling tinggi berada di sektor pendidikan yakni sebanyak 20 persen dari APBN. Miris, saat pendidikan yang seharusnya melahirkan manusia berkualitas, justru hanya meloloskan manusia serakah yang terbiasa dibuai oleh mudah nya mendapatkan keinginan.


Perbaiki Kualitas

Setiap individu tentunya mampu, menjadi manusia berkualitas dan terdidik, Indonesia haruslah membenahi setiap sisi kehidupan dunia pendidikan, dimulai dari mensejahterakan para pendidik dan memberi sanksi tegas kepada siapapun yang melakukan kecurangan. Hal ini akan berdampak pada lahirnya manusia terdidik yang tidak hanya memiliki gelar, namun mampu menggunakan ilmu nya dengan sebaik mungkin. Menekankan kejujuran pada tahap pendidikan merupakan langkah awal dari memperbaiki kualitas pendidikan.


Manusia yang terbiasa di didik dengan melihat hasil, maka tidak akan perduli langkah apa yang dia ambil asalkan tujuan nya terpenuhi, hal ini akan menjadi darah daging dan membuat generasi muda tidak lagi takut pada sanksi sosial maupun hukum. Terbukti dengan banyaknya sarjana berpendidikan yang mendekam di jeruji besi karena korupsi. Disitulah cikal bakal kesalahan pendidikan di negeri ini, harusnya hasil yang baik harus pula di dapat dengan cara yang baik pula. 


Impact dari memberi hukuman bagi pelaku kecurangan adalah mengajarkan norma dan etika kepada generasi muda agar terbiasa berusaha menggunakan cara yang benar saat hendak mendapatkan sesuatu, hal ini akan menciptkan manusia berpendidikan yang terdidik. Dimulai dari pembelajaran di rumah, orang tua hendaklah tidak memaksakan kehendak nya kepada anak dan mengapresiasi kejujuran yang dia lakukan, sehingga akan terbiasa bertanggung jawab dan jujur dalam menjalani kehidupan.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Berpendidikan, Tapi Tidak Terdidik

Trending Now

Iklan

iklan