Jejak Ketokohan Buya Hamka dalam Memimpim hingga Dinobatkan sebagai Nama Perguruan Tinggi

Rabu, 13 Januari 2021 | 00:26 WIB Last Updated 2021-01-12T17:26:48Z


Kabarpendidikan.id
Mempelajari tentang seorang pemimpin pastinya tidak luput akan ketokohan serta perjuangan yang telah dilakukan selama orang tersebut meminpin baik di lembaga, organisasi, maupun yang lainnya sehingga hasil perjuangannya dapat dirasakan oleh pengikutnya maupun masyarakat secara umum.

 

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA adalah salah satu seorang pemimpin atau ketua umum Majelis Ulama Indonesia sejak didirikannya pada 26 Juli 1975 dari Muhammadiyah. MUI di bentuk untuk membantu pemerintah dalam melakukan hal-hal yang menyangkut kemaslahatan umat Islam, seperti mengeluarkan fatwa dalam kehalalan sebuah makanan,penentuan kebenaran sebuah aliran dalam agama islam, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seorang muslim dengan lingkungannya.

 

Dalam menerima jabatan pertama sebagaii ketua MUI pertama, Hamka yang merupakan tokoh organisasi Islam yaitu Muhammadiyah memberikan sambutan setelah dilantik. Hamka menyatakan dirinya bukan sebaik-baik ulama lainnya karena ia menyadari bahwa dirinya memang populer, tapi kepopuleran bukanlah menunjukkan bahwa Hamka yang lebih patut. Dalam proses kepemimpinannya, Hamka telah berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara umat Islam.

 

Sebagai ketua MUI, ia menyadari betul bahwasanya amanah yang ia emban saat itu bukanlah amanah yang harus dimanfaatkan dan dinikmati dari fasilitas yang ia dapatkan sebagai Ketua Umum MUI. Pasalnya, semenjak ia menjabat sebagai ketua MUI bahwasanua ia meminta untuk tidak digaji dan memilih Masjid Agung Al-Azhar sebagai pusat kegiatan MUI alih-alih berkantor di Masjid Istiqlal.

 

Bukan hanya gaji yang tidak ia terima, jabatan sebagai ketua MUI pun ia siap lepas apabila jika nanti tidak ada kesesuaian dirinya dengan pemerintah dalam kerjasama dan hal ini diakomodasi oleh pemerintah. Dalam kaitan ini, terang saja terjadi sebuah pemasalahan di masyarakat terkait Fatwa MUI tentang upacara Natal bagi umat Islam hukumnya haram yang dialamnya diharamkan dalam mengucapkan selamat akan hari natal kepada umat Kristiani walaupun pada saat itu petunjuk pelaksanaan belum selesai dibuat oleh Departemen Agama. Akan tetapi, fatwa tersebut sudah menyebar dan ramai di masyarakat sehingga terjadi permasalahan.


Permasalahan yang terjadi di masyarakat tentang larangan ucapan selamat natal kepada umat Kristiani, pemerintah menuntut Hamka untuk mencabut fatwa tersebut dan Hamka mengeluarkan Surat Keputusan (SK) mengenai penghentian edaran fatwa. Walaupun demikian, hamka menjelaskan terkait SK yang ia keluarkan bahwa fatwa tersebut dipandang perlu dikeluarkan sebagai tanggung jawab para ulama untuk memberikan pegangan kepada umat Islam dalam kewajiban mereka memelihara kemurnian aqidah Islamiah.


Dalam buku Mengenang 100 Tahun Hamka,Hamka teringat akan pertama kali ia dipilih sebagi ketua MUI bahwasanya ia siap mudur dan hal ini ia lakukan untuk mundur sebagai ketua MUI. Dalam buku tersebut, Hamka mengatakan “Masak iya saya harus mencabut fatwa” sembari tersenyum dalam menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai ketua MUI kepada Departemen Agama.


Kemunduran Hamka dari Ketua MUI menuai simpati besar dari umat Muslim pada umumnya dan hal ini pula, Hamka mengungkapan perkatanannya kepada sabatnya yaitu Yunan Nasution bahwa “waktu saya diangkat dulu tidak ada ucapan selamat, tapi setelah saya berhenti, saya menerima ratusan telegram dan surat-surat yang isinya mengucapkan selamat”.


Dalam kaitan ini, Tokoh Hamka atau biasa kita sebut Buya Hamka adalah tokoh teladan yang kokoh atas pendiriannya serta berani berjuang untuk kemaslahatan Umat tidak memanfaatkan posisinya sebagai ketua MUI dengan tidak menerima gaji sebagi ketua MUI. Hal ini merupakan, jejak positif yang patut kita tiru dan laksanakan untuk berpegang teguh atas keyakinan positif sebagai umat Islam.

 

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia merasa bangga atas Buya Hamka dalam sikap positifnya dan hal ini pula nama Hamka dinobatkan dalam sebagai nama Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah yang berlokasi di Jakarta dengan nama UniversitasMuhammadiyah Prof. DR. HAMKA walaupun penobatan nama tersebut bukan hanya itu. Melainkan juga, Hamka merupakan tokoh Muhammadiyah yang meiliki spirit yang luar biasa dalam belajar mandiri (otodidak), tuntas, dan dan berlangsung sepanjang hayat. Dilain itu, Hamka merupakan sosok multidimensi dalam beragam kepakaran, yaitu ulama yang intelektual, seorang sastrawan yang luar biasa dan unik, sekaligus seorang wartawan dan mubaligh.


(Abdul Latif, M.Pd / Dosen FKIP Uhamka)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jejak Ketokohan Buya Hamka dalam Memimpim hingga Dinobatkan sebagai Nama Perguruan Tinggi

Trending Now

Iklan

iklan