Wabah Covid 19: Vaksinasi dan Kepercayaan Masyarakat

Kamis, 17 Desember 2020 | 08:16 WIB Last Updated 2020-12-17T07:23:03Z




Kabarpendidikan.id
Wabah virus Corona atau dengan nama lain Covid-19, membuat seluruh dunia kewalahan, membuat masyarakat diseluruh penjuru dunia panik, membuat perekonomian melemah, dan lain sebagainya.

 

Banyak dalih yang meyakini bahwa virus Corona ini merupakan permainan dari negara yang memiliki pengaruh terhadap pergerakan dunia. Dimana tujuannya untuk membuat lemah negara lain, sehingga seiring berjalannya waktu akan membuat suatu ketergantungan terhadap negara tersebut. Yah dapat dipastikan bahwa negara ini mencoba untuk membuat negara lain bergantung pada dirinya, sehingga dengan mudahnya negara tersebut mengontrol pergerakan dari sektor manapun tidak terkecuali ekonomi negara lain.

 

Virus ini juga bisa saja menyebar akibat dari kedzoliman serta ketamakan manusia itu sendiri. Ini jika kita memandangnya dari sisi spiritual juga perilaku dari individunya. Wabah ini berasal dari Negeri Tirai Bambu biasa kita menyebutnya Negara China atau Tiongkok.

 

Sekarang kita lihat dari sisi spiritualnya, sebelum merebaknya wabah Covid-19, di Negara tersebut khususnya di daerah Uighur telah terjadi penindasan terhadap penduduk yang beragama Islam. Dimana masyarakat yang beragama Islam dianiaya, dipisahkan dari anggota keluarganya, suami isteri dipaksa berpisah, di bantai habis-habisan oleh kaum yang membenci Islam di negara tersebut.

 

Kejadian ini tidak hanya melanggar hukum secara konstitusi tetapi juga melanggar hukum atau syariat agama. Dalam halnya konstitusi, kejadian ini termasuk kedalam pelanggaran Hak Asasi Manusia ( HAM ), dimana orang dianiaya tanpa alasan yang jelas.

 

Begitupun dalam halnya syariat atau hukum agama. Tidak ada satupun di dunia ini yang agamanya menyuruh kepada kebathilan atau kejahatan. Bahkan seluruh agama di dunia mengharuskan penganutnya untuk senantiasa menjaga perdamaian, berbuat kebaikan, serta saling berkasih sayang antara satu dengan yang lainnya.

 

Namun, lain halnya dengan faham yang tidak menjadikan agama sebagai pedomannya. Mereka menganggap agama adalah sumber keributan dan lain sebagainya dan selalu menghindari diri dari agama.

 

Ada sebab pasti ada akibat, setiap perbuatan pasti ada ganjarannya. Dengan kedzoliman yang diperbuat, juga dengan perilaku masyarakatnya yang mencerminkan ketamakan ( seperti memakan segala bentuk hewan ), diturunkanlah sebuah penyakit, yang tidak disangka penyebarannya begitu cepat dan sangat mematikan. Maka dari opini saya tersebut dapat ditarik benang merahnya, bahwa dari sinilah asal muasal virus Covid 19 itu muncul.

 

Seiring berjalannya waktu, jumlah korban akibat wabah ini terus meningkat dari berbagai negara di penjuru dunia. Tidak terkecuali di Indonesia, angka positif Covid-19 semakin meningkat beberapa bulan setelah terindikasinya 2 orang yang positif Covid-19.

 

Pemerintah dalam hal ini pun tidak hanya tinggal diam, banyak kebijakan yang dikeluarkan untuk menurunkan tingkat penyebaran Covid 19 ini.

 

Lembaga-lembaga kesehatan di seluruh penjuru dunia pun mulai mencari vaksin sebagai penawar dari virus ini. Seiring berjalannya waktu sampailah pada titik dimana vaksin tersebut berhasil di temukan.

 

Vaksin mulai disebarkan keberbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, masih banyak masyarakat yang belum percaya sepenuhnya terhadap vaksin yang di sediakan oleh pemerintah.

 

Masyarakat takut jika vaksin yang diberikan tersebut merupakan ajang uji coba. Sehingga banyak masyarakat yang enggan dan menarik diri untuk dilakukan vaksinasi.

 

Dalam hal ini, untuk menarik minat serta kepercayaan masyarakat dalam melakukan vaksinasi, seharusnya para pejabat pemerintah menjadi garda terdepan untuk diberikan vaksin terlebih dahulu.

 

Hal ini diharapkan dengan diberikannya vaksin kepada para pejabat pemerintah dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap vaksin tersebut. Bukannya sebaliknya, para pejabat pemerintah menolak untuk dilakukan vaksin pada dirinya, dan malah menyuruh masyarakat melakukannya terlebih dahulu. Ini tidak mencerminkan pemerintah sebagai panutan yang baik bagi masyarakatnya.

 

Ditambah terdapat kasus yang dikemukakan oleh Komunitas Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait (VRBPAC), mengenai empat kasus penerima vaksin Covid 19 mengalami Bell’s Palsy atau lumpuh pada otot wajah sehingga sisi wajah tampak melorot.

 

Ditambah dengan ditetapkannya harga dalam memperoleh vaksin, membuat masyarakat semakin enggan untuk melakukan vaksinasi tersebut. Pemerintah seharusnya menggratiskan program vaksin kepada seluruh elemen masyarakat disetiap daerah. Karena vaksin ini dinilai sebagai temuan baru yang seharusnya diberikan lisensi “Trial” dalam proses pemerataannya.

 

Sudah banyak negara yang menggratiskan vaksinasi bagi masyarakatnya seperti Bahrain, Arab Saudi, Mesir, Jepang, Perancis, Portugal, Belgia, dan India. Seharusnya Indonesia pun bisa melakukan hal yang sama dengan negara-negara tersebut.

 

Dengan didahulukannya para pejabat pemerintah dalam pemberian vaksin Covid-19, serta didukung dengan penggratisan pemberian vaksin ke setiap daerah di seluruh Indonesia, maka rencana pemerintah dalam hal menciptakan kekebalan komunal atau herd immunity dapat dipastikan tercapai.

 

Hal ini disebabkan karena, masyarakat telah mempercayai vaksin tersebut yang ditunjukan oleh para pejabat pemerintah yang memberikan sugesti baik terhadap vaksin, juga masyarakat akan senang hati melakukan vaksinasi secara gratis.

 

(Muammar Fikri Ramadhan/ Mahasiswa S1 Akuntansi FEB Uhamka)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wabah Covid 19: Vaksinasi dan Kepercayaan Masyarakat

Trending Now

Iklan

iklan