Acara ini dihadiri oleh Marsudi
Syuhud Wakil Ketua MUI, Amirsyah Tambunan Sekretaris Jenderal MUI, Prof.
Sudarnoto Abdul Hakim Ketua MUI Bidang Luar Negeri sekaligus Sekretaris BPH
Uhamka, Prof. Nani Solihati Wakil Rektor III Uhamka, dan Muhammad Dwifajri
Wakil Rektor IV Uhamka. Pelatihan ini juga dihadiri oleh Sergel Gennadievich
Tolchenov selaku Duta Besar Federasi Rusia.
Marsudi Syuhud selaku Wakil Ketua
Umum MUI menjelaskan bahwa Diplomasi Islam Wasatiyah merupakan upaya
memperkenalkan model Islam Indonesia yang moderat dan seimbang kepada
masyarakat dunia. Melalui kajian, pelatihan, hingga sertifikasi bagi calon
diplomat, pemahaman mengenai Islam yang tawazun atau seimbang diharapkan
dapat semakin dikenal, termasuk nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
“Islam rahmatan lil ‘alamin harus didakwahkan kepada dunia, baik kepada
negara-negara Muslim maupun non-Muslim. Kita ingin menunjukkan bahwa
nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian dan bersifat universal dapat diterima
oleh bangsa-bangsa di dunia,” ujarnya.
Menurut Muhammad Dwifajri Wakil Rektor IV Uhamka menuturkan, kepercayaan
MUI menjadikan Uhamka sebagai tuan rumah pelatihan tersebut merupakan sebuah
amanah sekaligus kebanggaan. Ia menilai, hubungan tersebut memiliki kedekatan
historis karena Buya Hamka merupakan Ketua Umum MUI pertama sekaligus tokoh
yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Uhamka.
“Membangun pendidikan yang terbuka merupakan bagian dari diplomasi. Uhamka
tidak hanya hadir untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga berupaya menyebarkan
pemikiran Islam Wasatiyah kepada masyarakat internasional,” lanjutnya.
Sergel Gennadievich Tolchenov, Duta Besar Federasi Rusia, menilai kegiatan
Diplomasi Islam Wasatiyah yang digelar MUI dan Uhamka memiliki relevansi dengan
dinamika hubungan internasional saat ini. Menurutnya, keterlibatan berbagai
pihak dalam forum semacam ini dapat membuka ruang dialog dan memperkuat
kontribusi akademik terhadap isu perdamaian.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan MUI dan Uhamka ini. Kami juga
terbuka untuk menjajaki berbagai bentuk kolaborasi yang dapat memperkuat dialog
dan kontribusi pada terwujudnya perdamaian global di masa depan,” ujar
Tolchenov.