Oleh: Rizqa Zidnia, S.Pd., M.Pd. (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA)
Gempuran teknologi yang kian hari kian melesat, membuka pintu pembelajaran bahasa Inggris menjadi semakin mudah diakses. Aneka model platform seperti youtube, open-access website, AI Chatbot, online course, dan podcast dapat dinikmati oleh pembelajar bahasa Inggris dimanapun dan kapanpun. Sayangnya, antara pintu kemudahan akan akses yang didapatkan tidak seimbang dengan peningkatan kemampuan berbahasa.
Positive attitude atau sikap positif pembelajar menjadi salah satu faktor penentu yang sering terabaikan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dari sudut pandang psikologi pendidikan bahasa, attitude diartikan sebagai kecenderungan mental yang memengaruhi cara seseorang merespons pembelajaran bahasa. Seperti yang dinyatakan oleh Gardner (1985) bahwa sikap positif terhadap bahasa dan komunitas penuturnya merupakan prediktor kuat keberhasilan belajar bahasa asing.
Antara Usaha dan Realita Menjaga Positive Attitude dan Kecanggihan Teknologi yang Memperdaya
Usaha untuk menjaga positive attitude menjadi semakin kompleks di tengah kecanggihan pembelajaran bahasa di era digital ini. Pada satu sisi, teknologi menawarkan ruang aman yang tidak menghakimi untuk berlatih secara terus menerus. Pada ChatGPT, ada fitur voice misalnya, yang mana memungkinkan mahasiswa berlatih berbicara tanpa khawatir dinilai teman. Akan tetapi, disisi lainnya, consumptive attitude muncul diwaktu yang bersamaan. Seperti halnya, video pembelajaran bahasa Inggris hanya sekadar ditonton oleh banyak pembelajar, tetapi malah enggan untuk mempraktikkannya.
Tantangan Menjaga Positive Attitude di Era Gempuran Teknologi
Berdasarkan beberapa hasil penelitian terkini, ada setidaknya tiga tantangan attitude utama bagi para pembelajar bahasa Inggris ditengah gempuran teknologi yang begitu massive;
Pertama, fear of mistake, Barrot (2025) dalam System menemukan bahwa kecemasan tinggi saat menggunakan AI untuk speaking justru menghambat performa karena pembelajar cemas dinilai oleh sistem AI. Dampaknya, karena seluruh konten bisa dengan mudahnya diedit dan disempurnakan, malah membuat banyak pembelajar takut melakukan kesalahan saat berbicara langsung, akibatnya mereka memilih diam.
Kedua, dependence on technology, Fathi dan Rahimi (2024) dalam Computers & Education mengemukakan bahwa ketergantungan berlebihan pada koreksi otomatis AI dapat menurunkan otonomi dan kepercayaan diri pembelajar saat berbicara tanpa bantuan teknologi. Ketergantungan pada teknologi yang sangat tinggi membuat kepercayaan diri para pembelajar terkikis habis, karena selalu tertuju pada terjemahan otomatis serta koreksi AI, sehingga melupakan kompetensi yang dimiliki pada diri sendiri.
Ketiga, low motivation for deep learning, Duong dan Chen (2025) dalam Language Learning & Technology menegaskan bahwa algoritma media sosial yang serba cepat membuat pembelajar terbiasa dengan pembelajaran instan. Kita memahami bahwa kuatnya intensitas terhadap otak pembelajar melalui algoritma media sosial pada konten cepat dan singkat atau dikenal dengan short, padahal latihan mendalam dan berkelanjutan sangat dibutuhkan dalam penguasaan suatu bahasa.
Solusi Menjaga Positive Attitude ditengah Gempuran Teknologi
Setelah kita memahami penjelasan diatas secara komprehensif, seketika kita mempertanyakan bagaimana solusinya? Teknologi sampai kapanpun tidak dapat dianggap sebagai pengganti usaha, melainkan sebagai alat untuk membentuk positive attitude.
1. Gunakan AI sebagai safe space untuk latihan. Gunakan AI Chatbot Voice untuk mengurangi kecemasan berbicara, karena tidak ada penilaian sosial, memungkinkan pembelajar untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam speaking skills.
2. Tentukan tujuan yang jelas. Ketimbang lelah tanpa arah karena terus menerus scroll, ada baiknya gunakan aplikasi dengan target harian. Contoh: 10 menit latihan speaking menggunakan open-access website / fitur voice AI.
3. Perkuat Growth Mindset. Memiliki kemauan untuk memahami bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari proses belajar, sehingga umpan balik yang dikirimkan oleh AI harus dilihat sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai vonis pribadi.
Pentingnya memperkuat peran pendidik. Dosen dan guru sangat perlu membimbing peserta didik agar dapat memiliki kecakapan literasi digital sekaligus literasi afektif, yang mana bermakna bahwa tidak hanya diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga peserta didik butuh diajarkan cara mengelola kecemasan, membangun disiplin, dan menjaga sikap positif dalam belajar bahasa Inggris.
Peluang dalam pembelajaran bahasa Inggris terbuka lebar seiring dengan kemajuan teknologi digital yang terus massive. Akan tetapi, dukungan teknologi tidaklah cukup, tanpa kesadaran untuk terus menjaga attitude yang positif, berupa kemauan untuk mencoba, tidak khawatir salah, senang dan menghargai proses, dan disiplin berlatih, maka seluruh aplikasi canggih tersebut hanyalah menjadi sesuatu yang sia-sia.
Menurut para ahli, keberhasilan belajar suatu bahasa di abad 21 tidaklah sekadar ditentukan oleh akses terhadap informasi, ada yang lebih urgen dari itu, yakni kesiapan mental pembelajar. Oleh karena itu, teruslah bersemangat untuk memulai membangun dan menjaga positive attitude yang tepat, agar gempuran teknologi di era digital benar-benar menjadi era emas bagi penguasaan bahasa Inggris di Indonesia.