KabarPendidikan.id - Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Dr. Emaridial Ulza, menegaskan bahwa sikap nonaktif Indonesia dalam konflik AS-Israel terhadap Iran dapat menimbulkan implikasi tertentu.
Menurutnya, ancaman bagi Indonesia tidak semata-mata datang
dari sektor ekonomi, seperti kenaikan harga minyak atau tekanan terhadap APBN,
melainkan juga dari hilangnya posisi strategis Indonesia dalam perhatian
global.
Sebagai Founding Director GTI, ia mengeluarkan laporan
strategis terbaru yang menganalisis dampak konflik tersebut bagi Indonesia. Laporan
setebal lebih dari 35 halaman ini disusun dari ratusan sumber internasional dan
menunjukkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai
strategic invisibility trap.
Emaridial menjelaskan bahwa situasi ini bukan menunjukkan
citra buruk Indonesia di mata dunia, tetapi justru menandakan ketidakhadiran
Indonesia dalam persepsi global.
“Di tengah derasnya arus informasi global, negara yang tidak
tampil dalam narasi internasional berpotensi tidak diperhitungkan, baik dalam
konteks investasi, diplomasi, maupun kebijakan strategis,” ungkap Emaridial.
Ia mengungkapkan bahwa dari perspektif international
marketing dan neurosains keputusan kolektif, respons pelaku pasar global dan
publik internasional tidak hanya didasarkan pada data, tetapi juga pada narasi
yang kerap muncul dan tertanam dalam ingatan mereka.
Dalam penjelasannya, Emaridial menyebut bahwa negara yang
tidak aktif mengembangkan narasinya sendiri berpotensi kehilangan perhatian
global, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar.
“Fenomena ini semakin terlihat saat dibandingkan dengan
Iran. Walaupun berada di tengah konflik besar, Iran tetap tampil di berbagai
forum global dan menjadi bagian dari percakapan dunia,” ungkapnya.
“Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan
ekonomi yang stabil belum menjadi aktor penting dalam narasi global,”
tambahnya.
Emaridial menilai kondisi ini berdampak langsung pada
ekonomi, bukan hanya citra. Gangguan pada reputasi, narasi, dan persepsi dapat
menunda investasi asing, menaikkan biaya pinjaman, dan memicu keluarnya modal.
Di sisi lain, laporan tersebut turut menyoroti tekanan
ekonomi yang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni
kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—ketenagakerjaan, suku bunga, dan
likuiditas—mengalami tekanan secara simultan. Kondisi ini dinilai berbeda dari
krisis sebelumnya karena tidak terdapat sektor yang berfungsi sebagai
penyangga.
Selain tekanan ekonomi, laporan ini juga mengidentifikasi
potensi implikasi geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global akibat
konflik di Timur Tengah dinilai mendorong negara-negara ASEAN untuk
bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan.
Pergeseran ini berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk
wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.
Di balik berbagai tekanan yang dihadapi, Indonesia justru
memiliki sejumlah keunggulan yang mendapat pengakuan global. Beberapa di
antaranya adalah keberhasilan dalam pengumpulan pajak ekonomi digital yang
menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia, serta program Makan
Bergizi Gratis yang menjadi salah satu investasi sumber daya manusia terbesar
di kawasan. Meski demikian, Emaridial menilai keunggulan tersebut belum
tersampaikan secara optimal di tingkat global.
Ia menuturkan bahwa di era saat ini, narasi telah melampaui
fungsi sebagai pelengkap dan justru menjadi penentu arah ekonomi sebuah negara.
Ketika negara gagal mendefinisikan dirinya sendiri, maka posisinya tidak akan
dianggap penting oleh dunia.
Laporan tersebut disusun menggunakan kerangka Global Trust
Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang mengintegrasikan
international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi
Keynesian untuk melihat keterkaitan antar-isu yang sering luput dari analisis
konvensional.
Di tengah persaingan narasi global yang semakin ketat,
Indonesia dihadapkan pada pilihan untuk tetap menjadi penonton atau
bertransformasi menjadi aktor yang diperhitungkan dalam percakapan dunia.
“Dalam konteks sistem global saat ini, ketidakterlihatan
suatu entitas berpotensi membuatnya tidak dianggap eksis,” kata Emaridial.