Akademisi Uhamka Tanggapi Retorika Trump Sebagai Propaganda Konflik Perang Iran

Minggu, 08 Maret 2026 | 14:22 WIB Last Updated 2026-03-08T07:22:25Z


KabarPendidikan.id -  
Akademisi Uhamka dan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Emaridial Ulza mengatakan, klaim Donald Trump tentang Iran tidak mencerminkan situasi geopolitik sebenarnya. Pernyataan tersebut dinilai lebih sebagai retorika politik dibanding gambaran konflik di kawasan.

 

Trump sebelumnya menyebut Iran sebagai “pecundang Timur Tengah” melalui platform Truth Social. Bahkan, Trump mengklaim Iran telah menyerah kepada negara-negara tetangganya.

 

Menurut Emaridial, gaya komunikasi Trump sering menonjolkan klaim kemenangan sepihak. Strategi tersebut biasanya digunakan untuk memberi tekanan psikologis kepada lawan.

 

“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama. Pola itu kerap muncul dalam berbagai konflik internasional," kata Emaridial dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 8 Maret 2026.

 

Trump bahkan menyebut Iran telah meminta maaf setelah serangan Amerika Serikat dan Israel. Trump juga mengancam Iran akan menghadapi pukulan sangat keras.

 

Emaridial mengatakan, pernyataan tersebut justru menunjukkan situasi konflik yang kompleks. Ia menilai kondisi di lapangan belum mencerminkan kemenangan mutlak.

 

Ia menjelaskan deklarasi kemenangan sepihak sering digunakan dalam strategi negosiasi. Langkah itu biasanya bertujuan membentuk opini publik domestik.

 

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Melainkan retorika tersebut dapat memperpanjang eskalasi konflik," ujarnya.

 

Ia juga menyoroti sikap beberapa negara Eropa yang tidak terlibat langsung. Kondisi ini dinilai menunjukkan dinamika geopolitik yang lebih rumit.

 

Menurutnya, konflik tersebut membutuhkan pihak penengah untuk mendorong dialog. Ia menilai negara-negara besar harus mencari jalur diplomasi.

 

Emaridial menyebut Indonesia berpotensi berperan sebagai mediator. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui Organisasi Kerja Sama Islam.

 

Ia juga menilai Indonesia dapat membangun komunikasi dengan negara Timur Tengah. Peran ini dinilai penting untuk meredakan ketegangan kawasan.

 

Ia menilai diplomasi multilateral dapat menjadi jalan keluar dari ketegangan geopolitik. “Indonesia bisa menggalang pertemuan untuk membantu meredakan konflik,” kata Emaridial.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Akademisi Uhamka Tanggapi Retorika Trump Sebagai Propaganda Konflik Perang Iran

Trending Now

Iklan

iklan