Pendekatan Manajemen Konflik

Kamis, 24 Februari 2022 | 09:20 WIB Last Updated 2022-03-08T17:21:36Z

 



Oleh : Malida Nur Hamidah

Mahasiswa FEB Uhamka

 

Membahas dan mendalami defenisi manajemen konflik, tentunya tidak dapat dilepaskan dari kerangka awal mengenai defenisi manajemen itu sendiri. Pemahaman tentang manajemen merupakan hal yang sangat serius mengingat substansi utama dalam menangani konflik adalah pengelolaanya, sementara proses pengelolaan konflik adalah manajemen itu sendiri. Sehingganya, dipandang perlu untuk memberikan pengantar awal mengenai pengertian dan defenisi dari manajemen secara teoritik, defensi ini akan menjadi landasan dalam membangun kerangka konseptual secara holistik mengenai pengertian manajemen konflik secara komprehensif. Pentingnya pemahaman yang baik mengenai defenisi manajemen menjadi syarat yang penting. Sebab defenisi tersebutlah yang akan mengarahkan secara perlahan demi perlahan sampai pada satu kesadaran tentang bagaimana seharusnya konflik tersebut diolah dan disikapi.

Manajemen pada dasarnya bukanlah hal yang asing bagi kita sebab hampir disetiap kegiatan keseharian, selalu bersentuhan dengan aspek-aspek manajemen, baik hal tersebut disadari maupun tidak disadari. Hampir disemua akifitas keseharian, kita selalu memerlukan manajemen karena tanpa manajemen yang baik maka bisa dipastikan kegiatan yang kita lakukan tersebut akan tidak beraturan, dan tidak dapat mencapai target yang diinginkan. Pentingnya peranan manajemen dalam sendi-sendi kehidupan manusia, terlihat dari luasnya cakupan disiplin ilmu manajemen misalnya saja manajemen bisnis, manajemen keuangan, manajemen rumah tangga dan lain-lain. Hal ini menunjukkan secara jelas dan terang bahwa manajemen selalu menjadi prasyarat inti yang dibutuhkan dalam rangka menjawab kebutuhan akan keteraturan hidup yang berdampak pada ketercapain tujuan yang telah ditetapkan dan telah direncanakan.

Manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses. Minnery juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik diawali dengan perencanaan kota, hal ini merupakan bagian yang rasional dan bersifat normatif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal. Sama halnya dengan proses manajemen konflik yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan kota meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik (dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik, struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan atau pihak ketiga dalam mengelola konflik. Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam konteks perencanaan kota dan melibatkan perencana sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak ketiga. Manajemen konflik secara umum merupakan kondisi terjadinya ketidak sesuaian antara nilai-nilai- atau tujuan yang ingin dicapai baik di dalam diri sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain.

Manajemen konflik terjadi karena beberapa hal. Salah satunya berikut: 1) adanya perbedaan kepentingan; 2) adanya perbedaan pengertian/pemahaman; 3) adanya perbedaan cara pandang; 4) adanya ketidakjelasan tujuan; 5) adanya perbedaan peraturan yang dianut; dan 6) adanya perubahan situasi baru. Dan jika terdapat konflik bagaimana cara kita untuk mengatasi konflik tersebut. Berikut beberapa cara yang dapat kita gunakan : 1)Hindari Menyudutkan Satu Belah Pihak. Menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi haruslah adil dan tidak memihak siapapun. 2) Menjadi Mediator yang Bijaksana. 3) Mengambil Keputusan Bersama. 4) Melakukan Evaluasi.

Demikian mengenai apa, mengapa dan bagaimana manajemen konflik itu dapat terjadi pada suatu lembaga, organisasi atau perusahaan. Karena konflik yang terjadi pada suatu organisasi sering tidak dapat dihindarkan maka kegiatan menseleksi konflik manajemen yang kita butuhkan harus benar-benar konflik yang berdimensi yang positif bagi pengembangan organisasi. Jika tidak, maka justru kita akan tenggelam pada konflik itu sendiri sehingga maksud semula ingin mendinamisir organisasi, tidak akan tercapai karenanya.

 

Daftar Pustaka :

Mohammad As'ad, konflik cara mengaiasinya dalam Perusahaan Masalah Tema kerja Th. 1988. FT. Asuransi Jiwa Seraya, cab Jawa Tengah Selaian.

Dr. Hj. Siti Asiah T., MM (2017) “Manajemen Konflik Teori dan Aplikasi” Gorontalo:PUSTAKA CENDEKIA

Muspawi Mohamad, “Manajemen konflik: upaya penyelesaian konflik dalam organisasi”, Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora, Volume 16, Nomor 2, 2014: 41-46 ISSN: :0852-8349 , Juli–Desember 2014.g

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pendekatan Manajemen Konflik

Trending Now

Iklan

iklan